bab 3 dan bab 4



BAB III
HASIL PENELITIAN
A.      Tinjauan Geografis
Kabupaten Aceh Utara tidak dapat dilepaskan dari sejarah perkembangan kerajaan Islam di daerah pesisir Sumatera yaitu Samudera Pasai yang terletak di Kecamatan Samudera Geudong Kabupaten Aceh Utara. Kerajaan ini juga mendapat sebutan lain dengan nama Samudera Darussalam, berdiri pada tahun 1216 M (Masehi). Samudera Pasai merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia yang terletak di pesisir pantai Utara Sumatera, di sekitar kota Lhokseumawe (Ibrahim Alfian, 2005:  8). Kabupaten Aceh Utara merupakan tempat pertama kehadiran Agama Islam di daerah Aceh. Kerajaan-kerajaan Islam di Aceh mengalami pasang surut, mulai dari zaman kerajaan Samudera Pasai, kerajaan sultan Iskandar Muda hingga kedatangan Portugis ke Malaka pada tahun 1511 sehingga 10 tahun kemudian Samudera Pasai turut diduduki oleh Portugis, hingga masa penjajahan Belanda.
Kabupaten Aceh Utara merupakan bagian dari Provinsi Aceh yang berada di sebelah utara. Berdasarkan peta skala 1 : 50.000, maka secara geografis Kabupaten Aceh Utara terletak pada posisi 960 47’ – 970 31’ Bujur Timur dan 040 43’ – 050 16’ Lintang Utara. Sampai dengan tahun 2013 Kabupaten Aceh Utara terdiri dari 27 kecamatan yang terdiri dari 70 Kelurahan (kemukiman) dan 852 desa (gampong). Kabupaten Aceh Utara dengan luas wilayah sebesar 3.296,86 km2 yang beribukota Kabupaten Lhoksukon. Batas wilayah Kabupaten Aceh Utara dengan wilayah lainnya adalah  sebelah utara Kota Lhokseumawe, sebelah timur Kabupaten Aceh Timur,  sebelah selatan Kabupaten Bener Meriah, sebelah barat Kabupaten Bireun.











Gambar  1
Peta Kabupaten Aceh Utara
(Sumber: Kabupaten Aceh Utara bekerjasama dengan
Bappeda Kabupaten Aceh Utara, 2013)

Luas wilayah Kabupaten Aceh Utara yang tercatat adalah 3.296,86 km2, atau 329.686 Ha, dengan panjang garis pantai 51 km, dan kewenangan kabupaten adalah sampai 4 mil laut, maka luas wilayah laut kewenangan ini adalah 37.744 Ha atau 3.774,4 km2.
Kecamatan Matangkuli yang beribukota Keude Matangkuli merupakan salah satu kecamatan yang berada di wilayah kabupaten Aceh Utara. Kecamatan Matangkuli memiliki luas wilayah sebesar 78,66 km2 atau 2,39 % dari keseluruhan luas wilayah di kabupaten Aceh Utara (3.296,86 km2). Batas-batas wilayah kecamatan Matangkuli sebagai berikut: Sebelah utara berbatasan dengan kecamatan Tanah Luas dan Lhoksukon, Sebelah selatan berbatasan dengan kecamatan Pirak Timu, Sebelah barat berbatasan dengan kecamatan Paya Bakong dan Tanah Luas, Sebelah timur dengan kecamatan Lhoksukon dan Pirak Timu.
Peta Kecamatan Matangkuli
Gambar  2
Peta Kecamatan Matangkuli
(Sumber: BPS Kabupaten Aceh Utara bekerja sama dengan
Bappeda Kabupaten Aceh Utara, 2013)
Kecamatan Matangkuli memiliki gampong (desa) sebanyak 49 gampong dan terdiri dari 4 kemukiman. Luas kecamatan Matangkuli yang dipergunakan sebagai lahan sawah hanya sebesar 19,61 km2, sisanya dipergunakan untuk hal lainnya yang bukan lahan sawah. Kecamatan Matangkuli memiliki 4 kemukiman yang membawahi beberapa gampong yang terdiri dari beberapa dusun. Kemukiman tersebut adalah kemukiman Pirak yang terdiri dari 17 desa (51 dusun), kemukiman Seuleumak terdiri dari 9 desa (30 dusun), kemukiman Matangkuli terdiri dari 13 desa (43 dusun) dan kemukiman Geulumpang Tujoh terdiri dari 10 desa (33 dusun). Secara geografis semua desa yang berada dalam wilayah Kecamatan Matangkuli berada di daerah dataran. Sedangkan berdasarkan topografinya semua desa berada di daerah hamparan.
B.       Sosio Kultural
1.    Mata Pencaharian
Mata pencarian adalah salah satu dari unsur kebudayaan, yaitu kegiatan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Mata pencaharian masyarakat Kecamatan Matangkuli dalam memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari pada umumnya di sektor pertanian seperti tanaman pangan, perkebunan, peternakan serta bekerja sebagai pegawai industri, sebagian masyarakat ada juga yang bekerja sebagai pedagang, karyawan swasta, PNS dan TNI serta wiraswasta.
Secara umum Kecamatan Matangkuli merupakan salah satu kecamatan yang cocok untuk lahan pertanian dan tanaman pangan.  Seperti tanaman padi, palawija, buah-buahan, dan sayur-sayuran.


2.    Kepercayaan
Masyarakat Kecamatan Matangkuli sangat kental dengan budaya religi, segala bentuk kebudayaan sangat dipengaruhi oleh pengaruh Islam. Menurut sejarah Islam mulai masuk ke Aceh pada abad ke 13, proses Islamisasi berkembang dan mempengaruhi segala aspek kehidupan masyarakat Aceh khususnya daerah kecamatan Matangkuli kabupaten Aceh Utara.
Meskipun demikian pengaruh budaya Hindu-Budha juga masih terlihat sampai sekarang, karena kebudayaan daerah Aceh berabad-abad lamanya dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu-Budha terutama di daerah-daerah pantai yang terletak di tepi laut lintas Internasional. Sedangkan di daerah pedalaman pengaruh Animisme dan Dinamisme masih kuat, khususnya daerah pedalaman lokasi letaknya rumoh Cut Meutia hal ini bisa dilihat pada upacara-upacara adat yang masih memakai peusijuk (tepung tawar/sesajian) dengan menggunakan bacaan-bacaan Do’a yang di pimpin oleh seorang teungku (ustaz) bertujuan untuk memberikan keberkahan dan keselamatan. Bahkan upacara ini juga dipakai pada saat pendirian bangunan rumoh Cut Meutia  dan bangunan-bangunan lainnya. Peusijuk (tepung tawar) pada saat medirikan rumoh  Cut Meutia dilakukan pada saat : 1) pemotongan kayu, 2) pada saat mulai dikerjakan oleh tukang (peutamoeng utoeh), 3) hari pertama didirikan, 4) setelah selesai hendak ditempati. Peusijuk (tepung tawar) merupakan adat yang mengharapkan sampena (diridhai) oleh Tuhan dalam suatu pekerjaan yang akan dilaksanakan oleh orang tua-tua  ataupun oleh utoeh (tukang) itu sendiri. Peusijuk (tepung tawar) ini disertai dengan sedikit kenduri secukupnya. Pada upacara ini ikut di undang anak yatim, orang-orang berdekatan (tetangga), pemuka masyarakat setempat dan sebagainya. Selesai diadakan Peusijuk (tepung tawar) semua yang hadir ikut berdo’a agar rumah yang akan di bangun mendapat berkah dan terhindar dari segala bahaya (Wawancara, Sulaiman : 17 Februari 2014).
3.    Pendidikan
Pendidikan tidak terlepas dari sarana dan prasarana yang menunjang dalam peningkatan mutu sumber daya manusia. Dalam wilayah kecamatan Matangkuli, pada tahun 2013 tercatat sebanyak 11 buah pendidikan sekolah dasar (SD/MI), 2 buah pendidikan sekolah menengah pertama (SMP/MTs) dan 2 buah sekolah menengah atas (SMA/MA). Sedangkan untuk tenaga pengajar, sebanyak 225 orang yang berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan 171 orang yang berstatus tenaga honorer. Dayah/pesantren serta balai pengajian juga merupakan salah satu tempat yang menjadi daya tarik dalam pendalaman ilmu agama di kecamatan Matangkuli. Dayah (pesantren) merupakan tempat khusus pendidikan Agama Islam yang bersistem asrama. Ada 9 buah dayah yang berada di kecamatan Matangkuli.  
4.        Kesenian
Jenis-jenis seni yang cukup populer di Kecamatan Matangkuli diantaranya adalah; seni tari, seni musik, seni suara, seni sastra dan seni hias (rupa). Seni hias di Kecamatan Matangkuli pada umumnya berciri khas tersendiri berupa ornamen daerah yang memiliki berbagai macam bentuk dan corak. Ornamen banyak diterapkan pada benda-benda kerajinan, seperti pada benda kerajinan tikar, keramik, sulaman, logam, alat musik, dan batu nisan. Ukiran ornamen pada setiap bangunan rumoh tradisional yang memiliki bentuk dan corak tersendiri sehingga memberikan perbedaan dengan rumoh Aceh yang ada di  daerah lainnya. Salah satunya rumoh tradisional yang masih memiliki ukiran ornamen yaitu pada rumoh Cut Meutia yang terletak di Kecamatan Matangkuli Kabupaten Aceh Utara. Rumoh Cut Meutia ini telah dijadikan sebagai peninggalan sejarah yang perlu dilestarikan karena memiliki nilai seni rupa dan sejarah.
C.       Keberadaan rumoh Aceh Cut Meutia
1.    Bentuk rumoh Cut Meutia
Gambar 3
Rumoh Aceh Cut Meutia
(Foto : Indra, 2014)
Rumoh Cut Meutia merupakan bangunan yang berdiri  di atas tiang-tiang bundar yang terbuat dari batang kayu yang kuat. Tiang rumoh Cut Meutia itu berjumlah 24 buah,  dengan ukuran satu tiang berdiameter lebih kurang 30 cm. Tinggi bangunan batas lantai lebih kurang 2,5 meter, sedangkan tinggi keseluruhan lebih kurang 5 meter.
Bagian bangunan yang berada di bawah lantai merupakan kolong terbuka. Bagian ruangan rumah yang berada di atas tiang-tiang terbagi atas tiga ruangan yaitu : bagian muka dinamakan seuramoe riyeun/seramoe keue (ruang depan), bagian tengah disebut seuramoe tengoeh (tunggal) dan bagian belakang disebut seuramoe likoet (bagian dapur). Ruangan tersebut dikelilingi oleh dinding kamar pada bagian tengah. Pada bagian depan terdapat pintu masuk yang disebut pintoe rumoh, dan pada dinding samping kanan dan kiri terdapat jendela yang di sebut tingkap. Pada ruangan tengah (tunggal) terdapat loteng yang disebut para. Para berfungsi sebagai tempat menyimpan barang-barang yang jarang digunakan dan senjata-senjata tajam seperti tombak, pedang, kelewang, dan lain-lain.
Bagian depan rumoh (seuramoe keue) merupakan sebuah ruangan lepas yang tidak mempunyai bilik. Pada dinding ruangan depan ini terdapat rak tempat meletakkan benda kecil yang disebut sandeng. Ruang depan sifatnya terbuka, maka ruangan tengah mempunyai sifat tertutup. Karena dalam ruangan ini terdapat dua buah bilik (kamar) tidur. Kedua kamar tersebut masing-masing terletak di ujung sisi kiri dan di ujung sisi kanan atau di sebelah barat dan sebelah timur. Kedua kamar tersebut masing-masing diberi nama Rumoh Inong dan Anjong. Rumoh Inong adalah kamar yang berada disebelah Timur. Rumoh Inong dikhususkan untuk perempuan. Anjong adalah jalan yang ada diantara dua ruangan kamar yang menghubungkan antara serambi depan dengan serambi belakang yang disebut Rambat.

f

e

g



b

h
 




d


                                                    c
 



                                                                    a                                                   a


Gambar 4
Denah rumoh Aceh Cut Meutia
(Desain : Indra, 2014)
Keterangan :
a.    Reunyen (tangga)                
b.   Seulasa (ruang samping                   
c.    Seuramoe keue (ruang depan)
d.   Rambat  (lorong)
e.    Anjong (kamar)     
f.     Rumoh Inoeng (kamar perempuan)
g.   Seuramo Likoet (ruang belakang)
h.   Dapu (dapur)
Sama halnya dengan ruangan depan maka ruangan belakang juga tidak mempunyai ruang kamar. Jadi ruangan belakang merupakan ruangan lapang atau terbuka. Ruangan belakang terkadang diperlebar dengan menambah dua buah tiang lagi pada bagian timur dari ruangan. Bagian yang ditambah disebut anjong atau ulee keude. Ruangan ini biasanya dijadikan sebagai dapur bahkan masih ada lagi penambahan ruangan. Kira-kira satu setengah meter dengan cara memasang balok tot yaitu balok yang menghubungkan tiang deretan tengah dengan tiang deretan belakang. Bagian yang ditambah disebut timphiek, biasanya digunakan menyimpan kayu api/bakar, guci tempat air dan lain-lain. Untuk naik ke atas rumah menggunakan tangga yang terbuat dari kayu. Jumlah tangga pada rumah ada dua buah yaitu tangga pada bagian tengah yang dikhususkan untuk tamu laki-laki dan samping kanan untuk tamu perempuan. Atap rumah merupakan atap berabung satu yang memanjang dari depan ke belakang dengan dua cucuran atap. Kedua cucuran atap berada pada sisi kiri dan kanan rumah, sedangkan perabungnya berada dibagian atas ruang tengah.
 Rumoh Cut Meutia bagian dalamnya yang terdiri dari tiga ruang yaitu ruang depan (seuramoe keue), tengah (seuramoe tengah), dan belakang (seuramoe likoet). Bentuk ruang tengah lebih tinggi dari ruang depan dan belakang. Hal ini dibuat karena posisi kedua kamar berada pada bagian tengah yang ditempati khusus oleh anak perempuan. Sedangkan anak laki-laki itu menmpati ruangan bagian belakang. Ruang depan dan ruang belakang dibuat lebih rendah dari ruang tengah yaitu untuk dapat meletakkan semua barang peralatan upacara adat perkawinan seperti pelaminan Aceh, tempat peusijuek, dan persandingan, meja hias pengantin, talam, tempat sirih, dalung, pakaian pengantin, lemari tempat menyimpan perlengkapan adat Aceh, vas bunga, penumbuk sirih, puan (tempat sirih) dan sebagainya.
Berdasarkan penjelasan di atas terdapat beberapa keistimewaan dari rumoh Cut Meutia antara lain :
a.    Letak rumoh Cut Meutia membujur dari arah Timur ke Barat. Hal ini penting untuk menentukan arah kiblat, di samping itu matahari dapat masuk ke kamar baik dari Timur atau sebelah Barat. Dengan demikian orang tidak perlu bertanya lagi letak arah kiblat.
b.    Bentuknya memanjang dan mempunyai ruangan tinggi rendah. Bagian depan rendah sejajar dengan bagian belakang. Bagian muka untuk penerimaan tamu laki-laki sedangkan bagian belakang untuk tamu perempuan. Bagian depan tengah agak tinggi dipergunakan sebagai juree (tempat tidur).
c.    Rumoh Cut Meutia dibuat tinggi guna untuk menghindari dari  gangguan binatang buas dan orang yang ingin berbuat jahat.
d.   Konstruksi rumoh Cut Meutia tidak menggunakan paku, tetapi menggunakan pasak kayu yang dibuat sedemikian rupa disebut dengan bajoe.
e.    Rumoh Cut Meutia dapat dengan mudah di bongkar kalau hendak dipindahkan dan dapat dipasang kembali tanpa mengakibatkan kecacatan dan kerusakan.
f.     Mudah diselamatkan dari bahaya kebakaran, karena atap rumah dapat diturunkan dalam waktu yang singkat, karena atap di ikat hanya menggunakan tali yang terbuat dari ijuk dan mudah melepaskan atau memotong saja sehingga atap tersebut akan jatuh ke bawah. Sehingga kerugian yang ditimbulkan tidak begitu besar.
g.    Rumoh Cut Meutia dibangun di atas tiang-tiang yang tinggi, maka letaknya dapat dipindah atau di geser.
Bangunan lain yang terdapat pada halaman rumoh Cut Meutia Adalah:
1)   Balee  (Balai)
Bangunan balai yang biasa disebut dengan balee yang merupakan bangunan tersendiri yang berada di sebelah kiri rumoh Cut Meutia. Balee merupakan bangunan dengan ruangan terbuka dan tidak mempunyai jendela karena hanya dikelilingi oleh tiang. Fungsi balee adalah sebagai tempat duduk-duduk bersantai dan tempat melaksanakan shalat selain itu juga tempat mengadakan acara adat dan pelatihan-pelatihan khusus kepada masyarakat desa (gampong) dan para tamu yang berkunjung ke rumoh Cut Meutia.

Gambar 5
Balee (Balai) terletak di samping rumoh Cut Meutia
(Foto : Indra, 2014)
2)   Kroeng padee (tempat penyimpanan padi)
Kroeng padee (tempat penyimpanan padi) dibangun di bagian samping rumoh Cut Meutia. Tiga buah Kroeng padee terbuat dari anyaman bambu yang bentuk bundaran dan sesuai dengan kebutuhan sehingga dapat menyimpan padi dengan jumlah banyak. Kroeng pade diletakkan diatas balee (balai) yang tinggi untuk dapat menghindari dari gangguan binatang dan dapat terlindungi dari hujan dan banjir (Wawancara : Muslem, 24 Februari).
Gambar 6
Kroeng padee (gelembung padi) di samping rumoh Cut Meutia
(Foto : Indra, 2014)
3)    Jeungki
Jeungki merupakan alat untuk menumbuk padi menjadi beras dan menumbuk beras menjadi tepung. Jeungki merupakan alat tradisional yang digunakan oleh Keluarga Cut Meutia pada zaman dahulu.
Gambar 7
Jeungki (penumbuk padi) terletak di samping rumoh Cut Meutia
(Foto : Indra, 2014)
4)   Kolam
Selain itu dipojok sebelah kanan depan rumoh Aceh terdapat sebuah kolam yang berukuran 4x4 meter. Dulunya digunakan oleh Cut Mutia ketika hendak mandi, Namun sekarang terlihat kosong dan air didalamnya keruh (Wawancara : Muslem, 17 Februari).
Gambar 8
Kolam
(Foto : Indra, 2014)
5)   Monumen Cut Meutia
Monumen yang berada di sudut sebelah kiri halaman rumoh Cut Meutia yaitu monumen untuk mengenang jasa Cut Meutia dalam melawan penjajahan Belanda.  Cut Meutia lahir di desa Pirak, pada tahun 1870 dan melakukan perjuangan melawan penjajah belanda di daerah Pasee, bersuamikan Teuku Muhammad seorang pemimpin perjuangan melawan belanda yang lebih dikenal dengan nama Tengku Chik Ditunoeng. Tengku Chik Ditunoeng, pada bulan Mei 1905 tertangkap dan ditawan oleh pihak belanda dan kemudian dijatuhi hukuman tembak. Cut Mutia yang ditinggal oleh suaminya ini memutuskan untuk menikah lagi dengan Pang Nangru. Pernikahan Cut Mutia dengan Pang Nangru adalah pesan suami Cut Mutia sendiri sebelum menjalani hukuman tembaknya. Bersama suami keduanya perlawanan terhadap Belanda terus berlanjut, namun gempuran dari pihak belanda pun semakin hebat menyebabkan pasukan Cut Mutia terdesak hingga ke pedalaman hutan Pasai dan terpaksa berpindah pindah.
Pada Tahun 1910 saat terjadi peperangan dengan pasukan Belanda di kawasan Paya Tijem (sekarang masuk dalam kecamatan Baktya, Aceh Utara, Pang Nangru gugur sementara Cut Mutia berhasil meloloskan diri. Kematian Pang Nangru membuat beberapa orang teman Pang Nangru akhirnya menyerahkan diri. Sedangkan Cut Meutia walaupun dibujuk untuk menyerah namun tetap tidak bersedia. Dipedalaman rimba Pasai, dia hidup berpindah-pindah bersama anaknya, Raja Sabi, yang masih berumur sebelas tahun untuk menghindari pengejaran pasukan Belanda. Pengejaran pasukan Belanda yang sangat intensif membuatnya tidak bisa menghindar lagi. Rahasia tempat persembunyiannya terbongkar. Walaupun pasukan Belanda bersenjata api lengkap tapi itu tidak membuat dirinya menyerah, dengan sebilah rencong di tangan, dia tetap melakukan perlawanan. Namun tiga orang tentara Belanda yang dekat dengannya melepaskan tembakan. Dia pun gugur setelah sebuah peluru mengenai kepala dan dua buah lainnya mengenai dadanya. Cut Meutia Syahid sebagai Pahlawan Bangsa dalam suatu pengepungan yang rapi dan ketat pada tanggal 24 Oktober 1910. Cut Meutia gugur sebagai pejuang pembela bangsa. Atas jasa dan pengorbanannya, oleh negara namanya dinobatkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional yang disahkan dengan SK Presiden RI No.107 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964  (Wijaya, 2007 : 60-62).
Gambar 9
Monumen Cut Meutia
(Foto : Indra, 2014)
2.      Fungsi Rumoh Cut Meutia
 Fungsi rumoh Cut Meutia adalah untuk melindungi diri dan keluarga dari gangguan binatang buas, hujan, panas dan angin kencang, rumoh Cut Meutia dahulunya digunakan untuk rapat menyusun strategi berperang melawan penjajah Belanda. Termasuk didalamnya sebagai tempat pelaksanaan upacara adat perkawinan. Fungsi ini didasarkan pada letak Rumoh Cut Meutia dan susunan ruangan rumoh (Wawancara : Sulaiman, 17 Februari 2014).
Secara fisik rumoh Cut Meutia masih terawat dengan baik, pada waktu tertentu rumoh Cut Meutia dikunjungi oleh beberapa pendatang. Tetapi karena kurangnya promosi dari dinas terkait menyebabkan objek wisata sejarah menjadi tidak diketahui oleh banyak orang, apalagi letaknya daerah pedalaman. Untuk menuju lokasi rumoh Cut Meutia harus menempuh perjalanan lebih kurang 20 kilometer dari jalur lintas propinsi yang menghubungkan Banda Aceh dan Medan.  Sawah  yang mengelilingi perkampungan tersebut juga menjadi daya tarik tersendiri, dengan lingkungan pedesaan yang asri dan nyaman.
Gambar 10
Jalan menuju ke rumoh Cut Meutia
(Foto : Indra, 2014)
Rumoh Cut Meutia yang kini menjadi Museum terletak di kecamatan Matang Kuli, kabupaten Aceh Utara. Rumoh Cut Meutia menjadi salah satu situs sejarah yang tidak bisa dilupakan oleh masyarakat Aceh pada Umumnya. Di dalam rumoh Cut Meutia banyak terdapat koleksi foto-foto sejarah, yang bercerita tentang para serdadu Belanda maupun para warga setempat yang telah menjadi korban penjajahan Belanda.  Dari koleksi foto-foto tersebut terdapat foto rumah yang usang, terbengkalai dan kelihatan tidak terurus. Foto tersebut merupakan bentuk asli rumoh Cut Meutia. Kemudian rumoh Cut Meutia direnovasi menjadi museum oleh keluarga turunan Cut Meutia untuk dijadikan bangunan bersejarah. Pada tahun 1982 mereka memugar bangunan tua tersebut dan mempersembahkannya kepada bangsa Indonesia sebagai tempat tinggal seorang pahlawan wanita Aceh yaitu Cut Meutia.
Gambar 11
Suasana dalam rumoh Cut Meutia
(Foto : Indra, 2014)
Bentuk dari rumoh Aceh Cut Meutia tersebut tidak hanya tercipta dengan sendirinya, namun di latar belakangi dengan kondisi alam yang mengharapkan bentuk rumoh tersebut harus demikian adanya. Karena pada saat itu jumlah penduduk yang masih kurang dan banyaknya lahan yang belum tergarap sehingga terlihat seperti hutan belantara. Hal ini yang menjadi alasan mengapa lantai rumah harus ditinggikan dari tanah selain itu untuk menghindari gangguan dari binatang buas. Bentuk rumoh Cut Meutia dirancang sedemikian rupa sehingga terkesan indah, unik dan terlihat kokoh dari segi ketahanan bangunannya. Bila ditinjau dari fungsi utama rumoh Cut Meutia dulunya berfungsi sebagai tempat tinggal. Sekarang sudah beralih fungsi dan dijadikan sebagai Meseum karena rumoh Cut Meutia tersebut telah diserahkan kepada pemerintah daerah.  Sehingga menjadi aset budaya Aceh yang terus menerus harus dijaga dan dirawat.

D.      Ornamen rumoh Cut Meutia
Pengertian ornamen dalam bahasa sehari-hari identik dengan ragam hias atau kadang juga dikatakan seni hias, yakni gabungan dari motif-motif seperti motif tumbuh-tumbuhan, binatang, alam benda serta geometris. Gabungan dari motif-motif tersebut disebut dengan ornamen atau ragam hias. Ornamen merupakan salah satu warisan budaya nenek moyang, yang hingga sekarang masih biasa di jumpai pada bagunan-bangunan peninggalan sejarah, seperti pada bangunan makam. Perwujudan ornamen sering dikaitkan dengan hal-hal yang bersifat religius
Kehadiran ornamen di tengah-tengah kehidupan masyarakat sebagai media ekspresi yang diwujudkan dalam bentuk visual, ditujukan sebagai pelengkap rasa estetik. Proses penciptaannya tidak terlepas dari pengaruh-pengaruh budaya dan alam sekitar. Dalam bentuk ornamen terdapat pula makna simbolik tertentu apa yang berlaku sah secara konvensional, di lingkungan masyarakat pendukungnya (Soegeng Toekio M, 1997 : 9).
Seni kerajinan pada umumnya dan seni ukir ornamen khususnya selalu menjadikan perasaan senang dan nyaman. Kata ukir atau ukiran berarti pahatan, yaitu suatu hasil seni yang dikerjakan dengan pahat ukiran dapat berarti pula lukisan atau gambaran (Bastomi,1982: 01). Selain itu W.J.S Poerwodharminta memberikan definisi tentang ukiran yaitu :
Juru (pandai, tukang), orang yang pekerjaannya mengukir (menggores, memahat dan sebagainya), untuk membuat lukisan pada kayu, batu, logam, dan lain-lain. Ukiran merupakan lukisan (hiasan dan sebagainya) hasil ukiran, cara mengukir (1976: 1119).

Berdasarkan pengertian tersebut maka karya ukir adalah karya yang indah, dan menyenangkan. Ukiran-ukiran ornamen dan penerapan oranamen pada umumnya terdapat pada benda-benda yang selalu dibutuhkan manusia dalam kehidupan sehari-hari seperti pada anyaman tikar, hiasan pada senjata tajam, pelaminan perkawinan dan hiasan pada alat musik.  Salah satu dari benda tersebut halnya dengan ornamen pada rumoh Cut Meutia yang terdapat di Kecamatan Matangkuli Kabupaten Aceh Utara. Rumoh Cut Meutia diperindah dengan ornamen tradisional daerah Aceh Utara.
Ornamen tradisional Aceh Utara terasa semakin hilang dan cenderung beranjak punah dalam penerapannya pada rumoh Cut Meutia maupun pada bangunan serta benda kerajinan lainnya karena ornamen yang ada pada rumoh Cut Meutia sudah tidak banyak lagi. Salah satu penyebab kepunahan tersebut adalah kurangnya upaya dari utouh (tukang) ukir Aceh terdahulu untuk mewarisi ketrampilan yang dimilikinya kepada generasi berikutnya.
Rumoh Cut Meutia memiliki berbagai macam ornamen pada setiap bagiannya. Ornamen tersebut merupakan salah satu bukti nyata bahwa seni ornamen sangat berpengaruh pada kehidupan dan dapat memberikan keindahan serta inspirasi dalam gerak dan aktivitas bagi seseorang. Keindahan serta nilai seni yang ada pada benda itu sendiri memberikan kesenangan bagi penikmat dan penciptanya. Ornamen yang menghiasi rumoh Cut Meutia dapat dikelompokkan ke dalam tiga jenis, terdiri dari motif tumbuh-tumbuhan, motif geometris dan motif alam. Bentuk motif tersebut diterapkan pada bagian dinding, tolak angin, jendela, ventilasi dan beberapa bagian lainnya. Warna ukiran disesuaikan dengan warna dasar bangunan dan juga memberikan warna yang melambangkan warna daerah Aceh seperti warna merah, putih, hijau dan kuning.
Ornamen yang terdapat pada rumoh  Cut Meutia di setiap bagian selalu berhubungan dengan lingkungan alam. Pada dasarnya ornamen  pada rumoh Cut Meutia terdiri dari tiga motif pokok seperti tumbuh-tumbuhan, geometris dan alam.
1.    Jenis ornamen
a.    Tumbuh-tumbuhan
 Jenis ornamen tumbuh-tumbuhan yang terdapat pada rumoh Cut Meutia menjadi sangat umum dan sejak itu pula menjadi bagian yang utama dalam dunia ornamen. Motif tumbuh-tumbuhan semakin subur dan berkembang serta mendapat tempat yang istimewa bagi masyarakat karena menunjukkan kesuburan daerah setempat dan di wujudkan ke dalam bentuk motif.
Jenis motif tumbuh-tubuhan yang terdapat pada rumoh Cut Meutia sebagai berikut: motif bungong tjampli (bunga cabai), bungoeng seuleupo (bunga Hias), bungoeng kalo (bunga kala), bungoeng awan lerai (bunga awan larai), bungoeng awan (bunga awan) motif pohon beringin dan bungoeng jeumpa (bunga cempaka) dan lainnya.
b.    Geometris
Motif geometris adalah motif tertua dalam ornamen karena sudah dikenal sejak zaman prasejarah. Motif geometris menggunakan unsur-unsur rupa seperti garis dan bidang yang pada umumnya bersifat abstrak artinya bentuknya tak dapat dikenali sebagai bentuk objek-objek alam motif geometris berkembang dari bentuk titik, garis yang berulang dari yang sederhana sampai dengan pola yang rumit. Pada rumoh Cut Meutia  motif-motif geometris terdapat pada tolak angin, dinding, ventilasi dan kindang. Adapun motif bentuk geometris yaitu; motif bersilang, motif persegi empat, motif segitiga, motif lingkaran dan motif belah ketupat.
c.    Alam
Alam merupakan hal yang tidak dapat terpisahkan dari kehidupan manusia dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Seperti  misalnya di waktu malam manusia pada zaman dahulu belum memiliki cahaya penerangan, manusia masih menjadikan bulan dan bintang sebagai peneran ketika berjalan di luar rumah. Dari bentuk bulan dan bintang tersebut kemudian manusia menjadikannya sebagai bentuk motif dan diterapkan pada rumoh Cut Meutia.
2.    Penempatan ornamen pada rumoh Cut Meutia
a.     Tulak angen (Tolak angin)
 Tulak angen (tolak angin) diberi motif ukiran tumbuh-tumbuhan yaitu motif bungoeng tjampli (bunga cabai), bungoeng kalo (bunga kala), dan motif bungoeng awan (bunga awan). Dan dihiasi dengan ornamen geometris seperti, motif segi tiga, dan segi empat. Bentuk dari seluruh ornamen telah mengalami pengembangan dan penyederhanaan bentuk agar lebih serasi dengan bidang yang dihiasi, selain itu di dalam ornamen tersebut terlihat permain garis segi empat (zig-zag) yang mendominasi motif tersebut. Tulak angeen (tolak angin) sebagai variasi dikelilingi oleh motif segi tiga agar terlihat lebih menarik dan lebih menyatu dengan bidang lainnya sehingga dari segi konstruksi terlihat kokoh.
Gambar 12
Ornamen pada tolak angin rumoh Cut Meutia
(Foto : Indra, 2014)
Keterangan gambar :
Bentuk motif

Nama motif
Motif segitiga 

Motif segiempat 


Motif bungoeng tjampli (bunga cabai) 

Motif bungoeng awan (bunga awan)

Motif bungoeng kalo (bunga kala)


b.    Kindang (kandang)
Kindang (kandang) dihiasi dengan motif bungoeng ukeu (bunga akar) biasanya ditempatkan pada kindang yaitu bidang yang berbentuk persegi panjang terletak di bagian bawah dinding atau bagian lantai bawah pada sisa luar mengelilingi rumoh Cut Meutia. Motif disusun secara memanjang antara satu motif dengan motif yang lain.
Ada pula motif putek bungoeng (putik bunga), segitiga terbalik yang dipadukan dengan motif bungong seulanga (bunga kenanga) pada bagian tengah. Bungoeng ukeu (bunga akar) yang terletak pada sisi tepi/pingir kiri dan kanan kindang atau berdekatan toi pada rumoh  Cut Meutia.
Bagian tengah samping kindang (kandang) sebelah barat dan timur juga terdapat motif berbeda dari motif yang terdapat pada kindang lainnya. Kindang bagian tengah lebih tinggi dari kindang samping karena posisinya di tengah. Motif yang diterapkan pada kindang tengah juga berbeda dari motif yang ada pada kindang samping kiri dan samping kanan yang sudah dijelaskan sebelumnya.  Motif yang terdapat pada kindang tengah ini yaitu motif bungoeng awan  lerai (bunga awan lerai) dan motif ukeu (akar).
Gambar 13
Ornamen pada kindang (kandang) rumoh Cut Meutia
 (Foto : Indra, 2014)
Keterangan gambar :

Bentuk motif

Nama motif

Motif Bungoeng awan (bunga awan)
Motif bungoeng seulanga (bunga kenanga), dan segitiga

Motif  bungoeng ukeu (bunga akar)

Gambar 14
Ornamen pada kindang (kandang) tengah
(Desain : Indra, 2014)
Keterangan gambar :
Bentuk motif

Nama motif


Motif  bungoeng awan lerai (bunga awan larai)


Motif  bungong ukeu (bunga akar)


c.    Dinding
Pada bagian atas pintu dan dinding atas terdapat motif daun kelor dan segiempat, selain untuk keindahan juga sebagai ventilasi.    Penerapan motif bungoeng ukeu (bunga akar) yang dipadukan dengan motif rantee (rantai) diterapkan pada bagian binteh (dinding). Pada bagian jerjak dinding rumoh Cut Meutia sekelilingnya  juga dihiasi oleh motif daun kelor, dan segiempat secara beraturan. Namun bentuk motifnya sudah disederhanakan, maksudnya bentuk motif tersebut tidak lagi utuh tapi hanya dibentuk separuh. Seperti yang terlihat pada binteh (dinding) rumoh Cut Meutia. Sebagai penghubung dirangkai dengan profil berbentuk garis lurus (vertikal) di ukir terawang mengelilingi semua dinding rumoh Cut Meutia.  
Gambar 15
Ornamen pada dinding rumoh Cut Meutia
 (Foto : Indra, 2014)
Gambar 16
Ornamen pada dinding rumoh Cut Meutia
 (Foto : Indra, 2014)
Keterangan gambar :
 Bentuk motif

Nama motif

Motif segiempat belah ketupat
Motif daun kelor






Motif ukeu (akar)

Motif rantee (rantai)


d.   Ventilasi
Selanjutnya pada bagian ventilasi  yang memiliki ruangan khusus difungsikan sebagai tempat penyimpanan barang-barang yang jarang dipergunakan ataupun senjata-senjata tajam. Motif yang diterapkan pada ruang ventilasi sangat beraneka ragam yaitu motif daun kelor, pohon beringin, bulan dan bintang. Bentuk dari masing-masing motif sudah disederhanakan dan di ukir terawang dalam bidang persegi panjang, serta disusun secara vertikal dan horizontal. Sehingga terlihat keserasian dari motif yang ditampilkan pada bagian ventilasi atau   pada bagian atas dinding kamar dan pintu kamar.
Pada ventilasi terdapat juga motif bungoeng tjampli (bunga cabai) dengan perpaduan motif daun kelor yang terukir dalam bidang persegi panjang dengan ukiran bentuk persegi panjang yang tepatnya terletak di atas pintu kamar.
Gambar 17
Ornamen pada bagian ventilasi rumoh Cut Meutia
(Foto : Indra, 2014)
Gambar 18
Ornamen pada bagian ventilasi rumoh Cut Meutia
(Foto : Indra, 2014)
Keterangan gambar:
Bentuk motif

Nama motif

Motif bintang

Motif bulan

Motif pohon beringin
Motif daun kelor
Motif bungoeng campli (bunga cabai)

Berdasarkan pengamatan dilapangan dan hasil wawancara dengan penjaga rumoh Cut Meutia. Menjelaskan  semua  motif yang ada pada rumoh Cut Meutia bersifat hiasan dan tidak memiliki makna tertentu karena ukiran ornamen yang diterapkan hanya untuk keindahan saja. Dan juga tidak ada aturan mengatur penempatan motif ukiran harus ditempatkan di salah satu bidang yang ada pada rumoh Cut Meutia (wawancara Sulaiman, 17 februari 2014).
Maka dari itu bentuk motif ukiran yang terdapat pada rumoh Cut Meutia sudah banyak mengalami perubahan serta penyederhanaan bentuk motif. Hal ini berdasarkan kemajuan zaman dan kurangnya pelestarian yang maksimal dalam menciptakan rumoh Aceh yang semestinya.
3.      Teknik ukir yang dipakai pada ornamen rumoh Cut Meutia
Pekerjaan mengukir membutuhkan teknik tertentu dalam penggarapannya. Ornamen diukir sedemikian rupa untuk memenuhi bidang-bidang yang kosong agar terlihat indah dan menarik oleh penikmatnya. Berdasarkan hasil penelitian terdapat dua jenis ukiran yang ada pada rumoh Cut Meutia. Dua jenis ukiran yaitu teknik ukir rendah (bas relief), dan ukir tembus atau ukir terawang (ayour relief) kedua jenis teknik ukir tersebut merupakan teknik yang digunakan pada pembuatan ornamen pada rumoh Cut Meutia. 
Pemulaan teknik tersebut dilatarbelakangi oleh keahlian turun temurun. Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara yang dilakukan dengan pihak terkait belum ada data kongkrit tentang mengapa dua teknik tersebut digunakan dalam pengukiran ornamen pada rumoh Cut Meutia. Dapat dipahami bahwa ukir terawang dibuat agar terjadinya pertukaran udara, sehingga udara dapat keluar masuk dan akan terasa sejuk. Dari segi estetika teknik tersebut dimaksudkan agar dapat mempertegas dari permainan cahaya dan bayangan pada motif ukiran akan tampak lebih jelas bila dilihat dari dalam rumoh (rumah). Secara mendasar apapun teknik yang digunakan mempunyai maksud dan latarbelakang tersendiri sehingga mendukung lahirnya teknik-teknik tersebut.
Ukiran ornamen rumoh Cut Meutia memiliki keunikan tersendiri dari segi finishing, hal ini dibuktikan dengan dapat terlihatnya serat kayu atau warna kayu dijadikan sebagai fokus utama sebagai pewarnaan secara alami dari warna kayu. Ornamen rumoh Cut Meutia pada awalnya tidak menggunakan warna. Setelah adanya pelestarian baru menggunakan warna pada bagian motif-motif tertentu saja. Warna  yang digunakan seperti warna hijau, merah, kuning, dan putih yang hanya di gunakan pada bagian tolak angin, dan bagian kandang luar rumoh. Selain itu kerapian, ketelitian dan kebersihan hasil ukir sangat ditonjolkan pada setiap bagian ornamen yang di ukir. Ketelitian dan kesabaran menjadi syarat utama yang diperhatikan oleh pengrajin tedahulu. Ukiran rendah (bas relief), disebut demikian karena gambar yang timbul kurang dari setengah bentuk utuhnya. Penempatan teknik ini pada ornamen bidang tulak angeen (tolak angin) dan bagian dinding samping di bawah tulak angeen (tolak angin). Teknik ukir tembus atau teknik terawangan (ayour relief) disebut demikian karena gambarnya menembus bidang datar, sehingga berupa lubang-lubang gambar atau terawangan. Penerapan teknik ini terdapat pada tulak angeen (tolak angin), binteh (dinding), dan jerejak (ventilasi),  dari masing-masing rumoh Cut Meutia.
Dengan demikian segala hasil cipta, karsa dan karya manusia/masyarakat selalu dibarengi oleh latarbelakang dan pengalaman serta pengetahuan masyarakat tersebut. Maka terjadi berbagai jenis pemahaman dan perbedaan dalam pembuatan sesuatu benda dan menggunakan berbagai jenis motif ukiran yang penerapannya pula sesuai dengan keinginan dari seniman/masyarakat setempat. Begitu pula dengan pembuatan ornamen rumoh Cut Meutia. Semua yang berkaitan dengan unsur pendukungnya tergantung pada masyarakatnya dan dari sudut mana ia menilai dan memberi tanggapan terhadap fenomena yang berkembang dalam menjelaskan permasalahan tersebut atau hal-hal yang berkaitan dengan ornamen ukiran pada setiap rumoh Cut Meutia.
Setelah dikuasai dua teknik tersebut dengan matang maka langkah selanjutnya menerapkan keahlian pada bidang-bidang yang ada pada rumoh Cut Meutia baik diterapkan pada pintoe (pintu), binteh (dinding), maupun bidang lainya, sehingga hasil ukiran akan tampak indah dan menarik apabila diterapkan dua teknik tersebut. Dan motif yang ada akan tertata dan terorganisir secara seimbang dan serasi sesui dengan bidang yang dihiasnya.  Cara bekerjanya harus tekun dan sabar. Mula-mula dibuat motif-motif yang akan di ukir, kemudian dipahat, digergaji, dibor dan sebagainya. Kayu dipilih yang baik sehingga dapat bertahan lama. Sebelum kayu-kayu tersebut di ukir kayu harus dikeringkan lebih dahulu agar tidak menyusut dan direndam dalam air supaya tidak mudah dimakan bubuk/rayap. 

BAB IV
ANALISIS DATA
            Menganalisa data dapat dilakukan dengan  dua metode, yaitu metode analisa kualitatif (non statistik) dan kuantitatif (statistik). Pada penelitian ini analisa yang digunakan adalah analisa kualitatif (non statistik). Karena data dari penelitian ini berbentuk uraian dari setiap pokok masalah yang diteliti sehingga nantinya didapatkan suatu kesimpulan dari hasil penelitian ini.
A.  Bentuk dan penempatan ornamen rumoh Cut Meutia.
Kehadiran sebuah ornamen tidak semata sebagai pengisi tempat yang kosong dan tanpa arti, apalagi karya-karya ornamen masa lalu. Ornamen yang ditampilkan pada rumoh Cut Meutia merupakan manifestasi dari keinginan batin para seniman Aceh terdahulu dalam mengungkapkan perasaannya yang selanjutnya dituangkan dalam beragam bentuk yang indah. Ornamen ukiran merupakan pokok pikiran manusia dan bentuk dasarnya dalam perwujudan meliputi segala bentuk alam seperti: tumbuh-tumbuhan (flora), geometris, dan alam.  Pada umumnya ornamen yang diciptakan oleh manusia ada yang memiliki maksud, tujuan, dan pesan-pesan yang akan disampaikan kepada masyarakat sosial dan ada juga yang tidak memiliki maksud. Bentuk-bentuk tersebut dipadukan dan disusun dengan rapi. Ornamen yang diterapkan pada rumoh Cut Meutia menggambarkan keindahan yang terdapat pada alam, seperti dalam pembuatan ornamen yang menyerupai tumbuhan-tumbuhan dalam kehidupan sehari-hari, bentuk geometris dan keindahan bulan dan bintang yang diterapkan pada rumoh Cut Meutia yang sudah distilirisasikan dengan bentuk yang lebih sederhana dan menarik. baik dari segi nama, bentuk dan fungsinya. Ornamen pada rumoh Cut Metia tidak terdapat nama dan bentuk motif yang berasal dari nama makhluk hidup seperti nama binatang dan lainnya.
Menurut Dharsono bentuk (form) adalah totalitas daripada karya seni. Bentuk merupakan organisasi atau satu kesatuan, komposisi dari unsur pendudukung karya (2004: 30). Teori bentuk melihat seni dari bentuknya. Bentuk melihat seni sebagai susunan dari elemen-elemen seni yang mempunyai bentuk penting dan bentuk bermakna. Bentuk karya seni adalah unsur dari seni rupa dan kriya. Bentuk inilah yang menjadi dasar penciptaan ornamen pada rumoh Cut Meutia.
Ornamen yang terdapat pada rumoh Cut Meutia sangat beragam, dalam penempatannya menimbulkan cara pemikiran yang baru dari seniman. Konsep dasar penciptaan dan pelahiran motif ukiran pada rumoh Cut Meutia didasari oleh bentuk tumbuh-tumbuhan, geometris dan alam. Ornamen tersebut diwujudkan dalam bentuk dua dimensional yang disusun secara simetris dan asimetris dalam posisi horizontal dan vertikal.
Ornamen   rumoh Cut Meutia terdiri dari beberapa motif pokok yang distilirisasi dari bentuk tumbuh-tumbuhan seperti bentuk motif; bungong tjampli (bunga cabai), bungoeng seuleupo (bunga Hias), bungoeng kalo (bunga kala), bungoeng awan (bunga awan), bungoeng jeumpa (bunga cempaka) dan lainnya. Sedangkan bentuk motif geometris seperti; motif bersilang, motif persegi empat, motif segitiga, dan motif lingkaran. Kemudian motif berbentuk alam seperti; motif bulan, dan motif bintang.
Selain itu berbagai bentuk dan jenis motif ukiran yang ada pada rumoh Cut Meutia sangat di hargai oleh masyarakat Aceh, karena dalam perwujudan motifnya selalu berpedoman pada kehidupan lingkungan dan ajaran Islam sebagai agama murni yang menjadi pandangan hidup bagi masyarakat Aceh, sehingga mencerminkan kusyukuran dan ketaatan dalam upaya mendekatkan diri kepada Tuhan. Ornamen tersebut merupakan salah satu bukti nyata bahwa bentuk ornamen rumoh Cut Meutia sangat dipengaruhi oleh kehidupan masyarakat setempat. Bentuk ornamen rumoh Cut Meutia memeberikan keindahan serta inspirasi dalam gerak dan aktivitas bagi seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Keindahahan serta nilai seni yang ada pada benda itu sendiri memberikan kesenangan bagi penikmat dan penciptanya. Ornamen yang menghiasi rumoh Cut Meutia diterapkan pada bagian dinding, tolak angin, jendela, kindang, dan ventilasi. Warna ukiran disesuaikan dengan warna dasar bangunan dan juga memberikan warna yang melambangkan warna daerah Aceh seperti warna merah, putih, hijau dan kuning.

B.   Fungsi  ornamen  pada rumoh Cut Meutia  
Penerapan ornamen memiliki tujuan sebagai penghias pada setiap bidang-bidang yang kosong. Di sisi lain tujuan dari ornamen bukan hanya sekedar penghias. Berbagai jenis ornamen yang diterapkan pada rumoh Cut Meutia terlihat bernuansa tumbuh-tumbuhan, geometris dan alam.  Selain itu motif ukiran mempunyai fungsi sebagai media ekspresi untuk mewujudkan suatu gagasan estetik. Hasil dari perwujudan tersebut merupakan simbolisasi dari ide-ide yang telah mepunyai bentuk. Hasil dari berbagai ornamen tersebut merupakan wujud nyata dari ide-ide atau terwujudnya penghayatan rasa indah dalam bentuk yang nyata.
Fungsi ornamen rumoh Cut Meutia dianalisis dengan menggunakan fungsi-fungsi seni yang dikemukakan oleh Edmund Burke Feldman diterjemahkan oleh Gustami Sp, menjelaskan fungsi dibagi atas tiga yaitu sebagai berikut: 1) (the personal function of art) seni sebagai fungsi pribadi, 2) (the social function of art) seni sebagai fungsi sosial, dan 3) (the fhysical function of art) seni sebagai fungsi fisik (1967: 2).
1.    Fungsi pribadi
Yaitu kebutuhan-kebutuhan tentang ekspresi pribadi. Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan dengan sempurna yang telah diberikan jasmani dan rohani. Kebutuhan jasmani manusia dapat berupa pakaian, makanan, dan tempat tinggal. Kebutuhan rohaniah berupa agama, etika, sosial dan seni. Kebutuhan jasmani dan rohani manusia dapat dipenuhi dengan kehadiran seni. Manusia membutuhkan kepuasan dan ketenangan jiwa. Sehingga dengan mengunakan pikiran dan perasaannya manusia menciptakan berbagai bentuk karya seni (1967: 4).
Bahasa yang digunakan untuk mengkomunikasikan perasaan dan ide-ide manusia salah satunya adalah bahasa seni rupa. Seni sebagai suatu alat ekspresi yang tidak hanya mengungkap ilham dan emosi pribadi tentang kehidupan semata. Seni juga mengandung pandangan-pandangan pribadi tentang peristiwa dan objek-objek umum serta situasi-situasi kemanusiaan mendasar, seperti: cinta, kematian, perayaan dan sakit, terulang dengan konstan sebagai tema-tema seni (1967: 4-5).
Perwujudan ornamen yang melekat pada bangunan rumoh Cut Meutia merupakan pengungkapan rasa estetis seniman/pemilik dalam mengekspresikan jiwa seninya. Hal itu diawali dengan pengolahan rasa pribadi seniman yang menyesuaikan dengan budaya dan agama yang dianut serta diputuskan secara bersama. Ekspresi seniman dapat dilihat pada bentuk ornamen yang terdapat pada rumoh Cut Meutia. Ornamen yang di ukir dengan ukiran yang rapi. Sehingga menjadikan rumoh Cut Meutia terlihat indah, menarik dan bermanfaat. Sehingga bisa menyampaikan pesan-pesan yang tersimpan dalam ornamen yang ditampilkan seniman sebagai ekspresi pribadi dalam memenuhi kebutuhan estetisnya, berusaha menciptakan rumoh Cut Meutia yang indah, menyenangkan dan bermanfaat. Pembuatan rumoh Cut Meutia dengan ornamen yang ada menuntut dan membantu seniman dalam memuaskan keinginan serta kebutuhan estetis orang yang akan memakai/menempatinya, disamping kepuasan estetis seniman itu sendiri.
2.    Fungsi sosial
Yaitu kebutuhan-kebutuhan sosial untuk keperluan hiasan. Idealnya sebuah ornamen merupakan wujud ekspresi yang mengusung nilai dan norma dari prilaku suatu masyarakat. Ornamen juga berfungsi sebagai pola untuk berfikir, bertindak dan berprilaku.  Ikatan sosial suatu masyarakat diikat oleh penggunaan ornamen jenis tertentu yang telah disepakati bersama (1967: 61). Setiap daerah memiliki ragam ornamen yang bentuk ekspresinya berbeda-beda. Feldman menjelaskan tentang fungsi sosial karya seni sebagai berikut:
Karya seni itu menunjukkan suatu fungsi sosial apabila (1) ia (karya seni itu) mencari atau cenderung mepengaruhi prilaku kolektif orang banyak; (2) karya itu diciptakan untuk dilihat atau dipakai (dipergunakan), khususnya di dalam situasi-situasi umum; (3) karya seni itu mengekspresikan atau menjelaskan aspek-aspek tentang eksistensi sosial atau kolektif sebagai lawan dari bermacam-macam pengalaman personal maupun individu (1967: 61). 

Berdasarkan dari uraian yang disampaikan Feldman rumoh Cut Meutia memiliki fungsi sosial, karena rumoh Cut Meutia diciptakan untuk digunakan dalam situasi-situasi umum terutama untuk keperluan adat seperti acara keagamaan, dan perkawinan. Fungsi dari ruangan-ruangan yang ada seperti pada hasil penelitian. Fungsi sosial dari rumoh Cut Meutia juga dapat dilihat pada ornamen yang ditampilkan. Ornamen merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan bangunan rumoh Cut Meutia. Ornamen dirancang untuk memperindah bangunan untuk mendukung tampilan struktur bangunannya, tanpa meninggalkan kaidah dan norma-norma berlaku. Idealnya sebuah ornamen mempengaruhi secara sosial dari masyarakat setempat. Hal ini terbukti dari adanya pengaruh ornamen rumoh Cut Meutia terhadap masyarakat Aceh Utara. Ada diterapkan motif yang sama pada pakaian adat atau pelaminan Aceh Utara. Ornamen yang ada pada rumoh Cut Meutia juga ada diterapkan pada peralatan dan benda-benda kerajinan sehari-hari untuk menjadi lebih indah. Seperti penerapan motif  bunga cabai pada peralatan pelaminan, senjata tajam, dan pada alat musik tradisional.
3.    Fungsi fisik
Yaitu kebutuhan-kebutuhan fisik mengenai barang-barang dan bangunan-bangunan yang bermanfaat. Keberadaan ornamen sangat ditentukan oleh unsur-unsur rupa atau unsur visual yang melingkupinya. Unsur-unsur itu berupa garis, bidang bentuk ruang, warna, proporsi dan sebagainya. Unsur-unsur tersebut tidak harus hadir secara keseluruhan pada sebuah ornamen karena masing-masing unsur itu diciptakan untuk mewujudkan citra tertentu. Dalam penciptaan sebuah ornamen mengutamakan perasaan, bukan berarti harus lepas dari unsur-unsur lain seperti pikiran, dan etika (1967: 127).
Fungsi fisik ornamen rumoh Cut Meutia dapat dianalisis sebagai berikut. Ornamen yang diterapkan pada rumoh Cut Meutia berfungsi sebagai penambah keindahan elemen-elemen bagian rumoh yang dihiasi. Pemberian ornamen menjadikan tampilan rumoh Cut Meutia nampak menarik dapat menggugah rasa si penikmat, melalui motif serta komposisinya. Fungsi ornamen yang demikian tersebut tampak jelas pada dinding luar dan dinding dalam  rumoh Cut Meutia dengan penekanan-penekanan nilai estetis serta pengungkapan rasa secara tidak terbatas.
Fungsi selalu menjadi pertimbangan dalam sebuah karya seni fungsional selain dari bentuk yang akan dihasilkan, sehingga bentuk yang sederhana akan terasa penting apabila fungsinya sesuai dengan keinginan pengamat. Kebutuhan manusia pada umumnya terdiri dari dua hal pokok yaitu kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani. Salah satunya bagi perasaan jiwa adalah melalui ornamen ukiran yang dihasilkan, pada kenyataanya mampu mengisi kepuasan batin, selain itu ornamen dapat membangkitkan rasa indah bagi penikmatnya sehingga dapat memberikan rasa puas dan kekaguman. Hal ini diperkuat oleh Gustami Sp yang menyatakan bahwa : fungsi pokok hiasan adalah untuk menambah nilai suatu benda kerajinan, sehingga memperoleh penghargaan yang lebih baik (1983: 43).
Ornamen pada rumoh Cut Meutia berfungsi hanya untuk hiasan dekoratif dengan tujuan agar bidang-bidang yang ada pada rumoh Cut Meutia  tampak indah dan menambah nilai estetik, sedangkan mengenai makna motif ukiran tidak begitu diperhatikan dalam penempatannya. Dalam  perwujudannya pada masing-masing bidang yang dihiasnya yang selalu diutamakan adalah nilai estetika dari setiap ornamen yang di ciptakan oleh seniman.
Estetika berasal dari bahasa Yunani yaitu aisthetika yang artinya hal-hal dapat diserap dengan pancaindra atau pengamatan yang tidak terlepas dari selera perasaan. Menurut pandangan umum estetika adalah suatu ilmu yang mempelajari segala sesuatu berkaitan dengan keindahan dan mempelajari semua aspek dari keindahan. Melalui ilmu estetika maka dapat diketahui kualitas dari keindahan suatu objek melalui pengamatan panca indra.
Monroe Beardsley dalam Gie mengatakan bahwa ada tiga unsur yang menjadi sifat-sifat membuat baik atau indah sesuatu karya estetik yang diciptakan oleh seniman. Ketiga unsur itu adalah :
1. Kesatuan (unity) unsur ini berarti bahwa karya estetis itu tersusun secara baik atau sempurna bentuknya. 2. Kerumitan (complexity) karya estetis itu tidak sederhana sekali, melainkan karya dengan isi maupun unsur-unsur saling berlawanan atau mengandung perbedaan-perbedaan yang halus. Kalau tidak terdapat unsur kerumitan, maka sebidang tembok yang dicat putih yang menunjukkan kesatuan bisa dianggap sebagai benda yang indah. Unsur kesatuan harus dilengkapi dengan unsur yang kedua sehingga menjadi kesatuan dalam keanekaragaman. 3. Kesungguhan (intensity) suatu kaya estetis yang baik harus memiliki suatu kualitas tertentu yang menonjol dan bukan sekedar sesuatu yang kosong (The Liang Gie, 1997: 43).
Keindahan pada ornamen rumoh Cut Meutia tersebut merujuk pada pendapat di atas adalah suatu kesan yang berkaitan dengan pengamatan yang ditimbulkan dari aspek seni. Kesan terhadap keindahan dari suatu karya seni estetik erat kaitannya dengan unsur yang dijelaskan oleh Monroe Beardsley dalam Gie yaitu adanya 1) kesatuan (unity), ornamen rumoh Cut Meutia memiliki kesatuan dari segi bentuk dilihat dari bentuk motif yang tersusun saling melengkapi satu motif dengan motif yang lainnya, 2) kerumitan (complexity) yang ada pada ornamen rumoh Cut Meutia memiliki kerumitan dan kehalusan tersendiri untuk mencapai keindahan fungsi yang di inginkan oleh seniman dan bisa dinikmati oleh orang lain yang melihatnya. 3) kesungguhan (intensity),  penciptaan ornamen rumoh Cut Meutia oleh si seniman dibarengi oleh emosi kejiwaan, sehingga dalam penciptaan ornamen rumoh Cut Meutia seniman memiliki ketekunan dan keahlian dalam mewujudkan ornamen sehingga bisa bertahan dalam waktu yang lama. Berkaitan dengan ini bahwa emosi sebagai reaksi seseorang terhadap karya seni ialah emosi estetika/keindahan.
Maka dari penjelasan di atas bisa disimpulkan bahwa dengan adanya ornamen pada rumoh Cut Meutia tesebut telah memberikan kesan dan gejolak emosi estetika (dalam kadar yang relatif) bagi siapa saja yang memandangnya, bidang kosong yang telah dihiasi dengan ornamen memberikan nilai tambah bagi rumoh Cut Meutia. Disinilah ornamen memainkan fungsi estetisnya.
Pendapat tersebut didukung oleh pernyataan Guntur dalam “Ornamen Sebuah Pengantar” ornamen berkedudukan sebagai elemen dekorasi terhadap objek-objek yang dihiasi. Dengan demikian, ornamen menjadi bagian dari permasalahan desain dekoratif, yaitu suatu elemen dekorasi yang dirancang untuk meperindah objek tertentu dengan tujuan untuk mendukung tampilan struktural objek atau desain strukturalnya menjadi lebih indah sehinga mampu memberikan kesan yang lebih menarik ketika dilihat oleh mata (2003: 74).
Maka pandangan  terhadap estetika setiap waktu terus berkembang sesuai dengan konsep estetik pada zaman tersebut. Perkembangan estetika selanjutnya telah menjadi filsafat dan ilmu pengetahuan yang tidak semata-mata menempatkan pengamatan indrawi sebagai sasarannya. Estetika tidak hanya menelaah keindahan benda seni buatan manusia akan tetapi juga merupakan keindahan alam.
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

bab 1 dab bab 2

bab 1