bab 1 dab bab 2
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
belakang
Rumah dalam Kamus Umum Bahasa
Indonesia (1976 : 836) adalah suatu bangunan yang dijadikan
sebagai tempat tinggal manusia
selama jangka waktu tertentu. Rumah berfungsi untuk
melindungi manusia dari panas matahari, hujan dan angin,
serta untuk
melindungi manusia dari gangguan binatang buas. Rumah tempat untuk berteduh
bagi manusia, baik laki-laki
maupun wanita. Masyarakat mendirikan rumah
yang kokoh untuk dapat ditempati secara turun temurun oleh generasi ke
generasi. Begitu juga halnya dengan rumah tradisional yang ada di
setiap daerah di Indonesia, yang memiliki ciri khas tersendiri baik dari segi
bentuk rumah maupun hiasan yang ada pada setiap bagian rumahnya.
Daerah Aceh memiliki rumah
tradisional yang biasa disebut dengan rumoh
Aceh. Rumoh
Aceh merupakan
tempat tinggal masyarakat Aceh pada zaman dahulu, bangunan rumah dibuat secara bergotong
royong dari beberapa keluarga. Agar bisa ditempati secara turun temurun oleh anggota keluarga untuk menjalani kehidupan
sehari-hari.
Salah satu rumoh Aceh
yang saat ini masih tersisa dan telah menjadi objek wisata di daerah Kabupaten
Aceh Utara adalah rumoh Aceh Cut Meutia. Disebut rumoh Aceh Cut
Meutia karena dulunya merupakan tempat kediaman pahlawan Nasional yang bernama Cut
Meutia dan merupakan satu-satunya rumoh
Aceh yang menjadi ciri khas dari kabupaten
Aceh utara.
Di setiap bagian bangunan rumoh Aceh Cut Meutia terdapat berbagai ornamen ukiran. Ornamen
pada rumoh Cut Meutia terdapat pada bagian dinding, pintu, ventilasi
dan tolak angin.
Semua motif ukiran tersebut merupakan
motif ukiran tradisional kabupaten Aceh Utara, yang pada saat ini sudah jarang dijumpai dan hampir mengalami kepunahan.
Hal ini disebabkan karena kurangnya perhatian dari pemerintah dan masyarakat untuk melestarikan dan mengembangkan kembali ornamen tradisional Kabupaten
Aceh Utara.
Bertitik tolak dari uraian latar
belakang diatas maka penulis tertarik untuk mengkaji lebih mendalam tentang
ornamen yang terdapat pada rumoh Aceh
Cut Meutia, yaitu bagaimana bentuk ornamen yang terdapat pada rumoh Aceh Cut Meutia, serta fungsi
pembetukan ornamen itu sendiri.
B.
Rumusan
masalah
Berdasarkan pemaparan latar belakang
yang berkaitan dengan ornamen pada rumoh
Aceh Cut Mutia
kecamatan Matangkuli maka dapat disimpulkan beberapa permasalahan sebagai berikut :
1. Bagaimanakah
bentuk ornamen dan
penempatannya pada rumoh Aceh Cut Meutia.
2. Apa
fungsi dari pembentukan ornamen pada
rumoh Aceh Cut Meutia.
C.
Tujuan
dan manfaat
1.
Tujuan
penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang
dikemukakan di atas maka penelitian
ini bertujuan untuk:
a.
Mendiskripsikan
secara rinci bentuk ornamen rumoh Aceh Cut Meutia
b.
Mendokumentasikan fungsi apa saja dari
pembentukan ukiran
ornamen pada rumoh Aceh Cut Meutia
c.
Untuk memenuhi syarat dalam
menyelesaikan program S1(studi
strata1)
jurusan Seni
Kriya Institut
Seni Indonesia Padangpanjang
2. Manfaat penelitian
Penelitian
yang dilakukan diharapkan dapat memperoleh manfaat :
a.
Menjadi
referensi bagi peneliti selanjutnya tentang ornamen daerah Aceh, khususnya
ornamen pada rumoh Aceh Cut Meutia
b.
Memotivasi masyarakat untuk menjaga dan melestarikan ornamen pada rumoh Aceh Cut Meutia
c.
Sebagai upaya pelestarian dan
mengembangkan kembali ornamen rumoh Aceh Cut Meutia dan sebagai objek promosi
budaya kepada dunia pariwisata.
D.
Metode
penelitian
Memudahkan dalam penelitian ini diperlukan metode untuk bisa mencapai hasil dari
penelitian. Metode penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian yang
menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari
orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Penelitian kualitatif ini
mengidentifikasikan data secara langsung ke lapangan yang menghasilkan data
deskriptif berkaitan dengan
penelitian ornamen rumoh Aceh Cut
Meutia.
1. Objek penelitian
Objek penelitian yaitu ornamen pada rumoh Cut Meutia, yang berada di Kabupaten Aceh Utara. Penelitian
dilakukan pada rumoh Cut Meutia dan
seluruh ornamen yang terdapat pada setiap bagian pada rumoh Cut Meutia, pada penelitian ini tidak menggunakan populasi
dan sampel, karena objek penelitian yang akan diteliti seluruh ornamen yang
terdapat pada rumoh Cut Meutia.
2. Data dan sumber data
Pemahaman
mengenai sumber data merupakan bagian yang penting bagi peneliti, karena
ketepatan dalam menentukan data yang diperoleh sangat menentukan hasil
penulisan dari penelitian ornamen pada rumoh Cut Meutia.
Jenis
sumber data dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu data primer dan data
sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh melalui pengamatan langsung
terhadap ornamen pada rumoh Cut
Meutia yang terletak di Kecamatan Matangkuli Kabupaten Aceh Utara, dan
melakukan wawancara dengan informan yang memiliki pemahaman tentang motif
ukiran Aceh Utara dan hal lainnya yang berhubungan dengan rumoh Cut Meutia. Sehingga data yang diperoleh tersebut dapat menjawab
permasalahan yang diteliti dalam pengolahan data selanjutnya.
Sedangkan
data sekunder adalah data yang diperoleh dari buku-buku, dokumen, arsip,
artikel, majalah, dan laporan skripsi serta tesis yang berkaitan dengan judul
penelitian baik yang diperoleh dari perpustakaan maupun dari instansi terkait
dan tidak menutup kemungkinan buku ini diperoleh dari inventaris masyarakat
setempat.
3.
Pengumpulan
data
Pengumpulan data merupakan salah satu
kegiatan pokok dalam sebuah penelitian, kegiatan pengumpulan data sesuai dengan
tujuan yang telah ditetapkan. Sebagaimana dijelaskan Maryani
data penelitian kualitatif bisa berupa tulisan, ujaran secara lisan, gambar,
angka, pertunjukan kesenian, relief, dan berbagai bentuk data lain yang bisa
ditransformasikan sebagai teks. Data tersebut bisa bersumber dari hasil survei,
wawancara, dokumen, rekaman, hasil evaluasi, dan sebagainya.
a.
Studi Pustaka
Studi pustaka
dilakukan untuk memperoleh informasi, bahan pendukung serta data-data yang
berkaitan dengan “Ornamen Rumoh Aceh
Cut Meutia”. Studi pustaka dilakukan
melalui buku-buku,
skripsi, majalah, artikel,
tesis, tulisan ilmiah dan tulisan lainnya yang berkaitan dengan
objek penelitian. Sehingga
memudahkan penulisan pada penilitian ornamen rumoh Cut Meutia.
b.
Observasi/Pengamatan
Observasi
merupakan metode ilmiah, Sutrisno Hadi (1982
:
136),
menjelaskan bahwa observasi biasa
diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara
langsung di
lapangan terhadap objek yang
diteliti. Pengamatan akan dilakukan dengan melihat dan mengamati sendiri ornamen
pada rumoh Cut Meutia sehingga memperoleh data yang lebih akurat, real dan valid.
Observasi
dalam penelitian difokuskan pada ornamen rumoh
Cut Meutia di
Kecamatan Matangkuli
Kabupaten Aceh Utara.
c.
Wawancara/Komunikasi
Wawancara
dilakukan dengan beberapa informan atau narasumber yang memiliki
banyak informasi tentang ornamen rumoh Aceh Cut Meutia di kecamatan Matangkuli Kabupaten Aceh
Utara. Informan yang akan di wawancarai yaitu keluarga dari Cut Meutia, penjaga rumoh Cut Meutia, pemuka masyarakat desa serta dinas pariwisata dan
kebudayaan dengan tujuan
dapat memberikan informasi akurat berhubungan dengan penelitian
yang akan dilakukan.
d.
Dokumentasi
Dokumentasi
digunakan untuk menunjang observasi
dan wawancara dengan cara mengumpulkan berbagai tulisan dan foto-foto
dari lokasi penelitian.
e.
Alat
pengumpulan data
1)
Alat tulis
Digunakan untuk
mencatat segala sesuatu yang berhubungan dengan penelitian secara langsung.
Alat yang digunakan yaitu pensil, pena,
pengapus dan buku
catatan.
2)
Alat perekam
suara
Digunakan untuk merekam atau
menyimpan data yang dilakukan saat wawancara dengan informan
mengenai Ornamen rumoh Cut Meutia, untuk mempermudah dalam mengumpulkan data dari
informan. Alat yang digunakan handphone
samsung.
3)
Kamera foto
Digunakan untuk
mendokumentasikan objek penelitian. Ornamen rumoh Cut Meutia dalam bentuk gambar secara menyeluruh dari objek penelitian dengan tujuan
untuk memperkuat dan memperjelaskan data yang diperoleh. Dari hasil penelitian di
lapangan
alat yang digunakan yaitu, kamera
hanphone dan kamera digital.
4.
Analisis
data
Analisis data
kualitatif dinyatakan oleh Bogdan dan Biklen adalah upaya yang dilakukan dengan cara
berkerja dengan data, proses mengorganisasikan data dan
mengurutkan data ke dalam pola,
untuk menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa
yang dapat diceritakan kepada orang lain (Moleong : 248).
Proses selanjutnya setelah data diperoleh dilapangan diolah dengan cara
mengelompokkan data disesuaikan dengan
permasalahan penelitian
ini. Berdasarkan hal tersebut di atas maka analisis data
yang dilakukan adalah analisis
data kualitatif.
Tahapan ini akan dilakukan serangkaian aktivitas untuk mengurutkan data-data
yang ada,
berkaitan dengan ornamen
rumoh Aceh Cut Meutia di Kecamatan Matangkuli, Kabupaten
Aceh Utara.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI
A.
Tinjauan Pustaka
Berdasarkan hasil tinjauan pustaka terdapat beberapa
penelitian yang mengkaji tentang ukiran pada rumoh Aceh yang ada di daerah
Aceh. Hasil penelitian tersebut
sebagai berikut:
Maulidin Bustami, (2003) dalam penelitiannya berjudul
“Ukiran Pada Rumoh Aceh Prof. H. Ali Hasjmy Di Desa Lamteumen Timur Banda Aceh”. Menuliskan tentang berbagai macam
bentuk ukiran yang ada pada rumoh
Aceh Prof. H. Ali Hasjmy serta fungsi, penempatan motif dan teknik yang
digunakan dalam pembuatan motif. Hasil penelitian ini dapat membantu peneliti
dalam mengkaji ornamen pada rumoh Cut Meutia di kecamatan Matangkuli, Kabupaten
Aceh Utara.
Muhadi, (2006) dalam penelitiannya berjudul “Ornamentasi
Pada Balai Desa Lingka Kuta Di Kecamatan Ganda Pura Kabupaten Aceh Jeumpa
Nanggroe Aceh Darussalam”. Menuliskan
tentang sejarah Balai Lingka Kuta, hiasan ukiran pada Balai Lingka Kuta mulai
dari bentuk dan fungsi ornamentasi pada Balai Lingka Kuta. Dari hasil
penelitian hanya dari segi fungsi yang memiliki kesamaan yang dapat menjadi
referensi untuk penelitian ornamen pada rumoh
Cut Meutia.
Selain dari hasil penelitian, juga di dukung dengan beberapa
buku yang dapat dijadikan referensi terkait dengan ornamen secara umum di
antaranya :
Sujiman A. Musa,
dkk, (1996)
bukunya yang berjudul Seni Rupa Aceh di
dalamnya memberikan penjelasan tentang seni rupa yang ada di Aceh. yaitu tentang seni arsitektur termasuk di
dalamnya rumoh Aceh, sulaman, ukiran,
keramik dan juga mengenai alat-alat kesenian. Dalam buku ini juga menjelaskan
mengenai ornamen yang terdapat pada batu nisan Aceh utara. Buku ini nantinya
dapat dijadikan sebagai referensi yang berkaitan dengan arsitektur rumoh Aceh untuk kelancaran penelitian
ornamen pada rumoh Cut Meutia.
Barbara Leigh, (1989) bukunya yang berjudul Tangan-Tangan Terampil Seni Kerajinan Aceh
didalamnya menceritakan mengenai kerajinan di daerah Aceh. Menceritakan kegiatan masyarakat Aceh
sehari-hari, dan juga menjelaskan mengenai arsitektur rumoh Aceh, ornamen dan penerapannya serta proses pembuatan rumoh Aceh yang dapat di jadikan sebagai
referensi untuk kelancaran penelitian ornamen pada rumoh Cut Meutia.
Aryo Sunaryo, (2009) bukunya yang berjudul Seni Ornamen Nusantara Kajian Khusus Tentang Ornamen Indonesia
didalamnya mengurai tentang keanekaragaman ornamen di Indonesia. Seperti yang
terdapat pada benda produk tenun, sulaman, anyaman, ukiran, arsitektur dan
sebagainya. Buku ini dapat dijadikan sebagai referensi mengenai ornamen
sehingga memberikan kelancaran pada
penelitian ornamen rumoh Cut Meutia.
Soegeng Toekio. M., (1987) bukunya yang berjudul Mengenal Ragam Hias Indonesia didalamnya memberikan penjelasan tentang ornamen
Indonesia. Menguraikan tentang titik, garis, tekstur, bidang, serta ornamen
dalam bentuk geometris, bentuk tumbuh-tumbuhan, bentuk penggambaran
makhluk
hidup seperti
hewan dan manusia, bentuk dekoratif dan gabungan beberapa jenis tersebut di
atas. Buku tersebut dapat digunakan sebagai acuan untuk membahas unsur motif
dan struktur bentuk ornamen pada rumoh Aceh Cut Meutia.
Gustami. SP, (2008) bukunya yang berjudul Nukilan Seni Ornamen Indonesia didalamnya memberi penjelasan tentang ornamen masa
prasejarah dan ornamen masa sejarah di Indonesia, pengertian
dan ruang lingkup ornamen, pengembangan seni ornamen dalam peta seni kriya
Indonesia. Buku ini juga menjelaskan tentang
pola dan motif, bentuk dan komposisi, corak, gaya, dan karakter seni ornamen,
serta faktor pendorong timbulnya ornamen. Buku ini nantinya dapat digunakan
sebagai acuan untuk membahas unsur motif dan struktur bentuk ornamen pada penelitian ornamen rumoh Cut Meutia.
Guntur, (2003) bukunya yang berjudul Ornamen Sebuah Pengantar didalamnya menjelaskan tentang pengertian ornamen dan
ruang lingkupnya, jenis dan sifat ornamen, fungsi sakral ornamen, motif
geometris, motif tumbuhan, motif binatang, motif artifisial, ragam hias, gaya
dalam ornamen, sumber
ide dan elemen pembentuk ornamen serta gramatika ornamen, struktur
komposisi ornamen dan kontruksi ornamen. Buku ini dapat
digunakan sebagai acuan untuk membahas unsur motif dan struktur bentuk ornamen pada rumoh Cut Meutia.
Beberapa uraian tinjauan
pustaka yang telah di paparkan tersebut di atas belum
ada penelitian yang mengkaji tentang ornamen rumoh Cut Meutia sebagaimana yang ada dalam penelitian ini meskipun
meskipun demikian semua buku-buku tersebut dapat digunakan sebagai panduan dan acuan dalam menyusun skripsi ini nantinya.
B.
Landasan Teori
Berdasarkan permasalahan yang diambil maka dibutuhkan beberapa pendekatan sebagai landasan berfikir untuk menjawab semua
permasalahan yang sudah
ditentukan. Sebelum masuk pada teori yang akan digunakan sebagai
pisau analisa dan kerangka berfikir dalam penelitian ini.
Ada beberapa konsep yang perlu penjelasan lebih lanjut di antaranya:
1. Rumah
Tradisional
Rumah
tradisional dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia adalah rumah yang dibangun untuk
digunakan secara bersama sejak beberapa generasi (1983: 2956). Memiliki kaitan
erat dengan penerapan adat istiadat, kepercayaan yang dianut. Ataupun penerapan
simbolik dalam perlakuan dan pemberian bentuk rumah tersebut.
Rumoh
Aceh merupakan salah satu rumah tradisional yang ada di daerah Aceh. Kusnadi
menjelaskan bahwa Setiap rumah tradisional di Aceh mempunyai bentuk yang sama.
Rumah tersebut berdiri di atas ketinggian sekitar 2,50 meter sampai 3 meter.
Denah bangunan biasanya berbentuk bujur sangkar memanjang dari arah barat ke
timur. Pintu tangga rumah pada umumnya menghadap ke utara atau ke selatan. Atap
bangunan terbuat dari rumbia yang dianyam. Tiang terbuat dari batang kayu yang
memiliki kualitas kuat sehingga dapat dipakai oleh beberapa generasi. Lantai
terbuat dari papan dan untuk merangkai susunan pada rumah Aceh tidak
menggunakan paku sama sekali tapi mempergunakan pengikat dari rotan atau paku
dari kayu (1979: 105). Penjelasan Rumoh
Aceh sebagaimana yang dijelaskan Kusnadi tersebut juga memiliki kesamaan dengan
bangunan Rumoh Aceh Cut Meutia.
2. Ukiran
Suwaji
Bustami mendefenisikan ukiran adalah: Suatu hasil seni yang dikerjakan dengan
pahat. Ukiran dapat berarti pula lukisan atau gambaran. Berdasarkan uraian tersebut karya seni ukir
adalah karya seni yang indah, yang menyenangkan. Menurut kenyataan benda-benda
yang berukir pada umumnya adalah benda terap seperti benda-benda kerajinan,
peralatan dalam kehidupan dan bangunan rumah adat serta rumah para raja-raja
(1982: 01). Begitu pula halnya dengan rumoh
Cut Meutia yang memiliki ukiran ornamen pada setiap bagiannya sehingga
memberikan kesan indah dan bernilai seni.
Selanjutnya
Suwaji Bustami (1982: 02) memberikan pengelompokkan tentang jenis seni ukir
yang dihasilkan oleh para seniman/pengrajint. Jenis-jenis ukiran tersebut
nantinya akan digunakan untuk menentukan jenis ukiran yang digunakan pada
ukiran ornamen rumoh Aceh Cut Meutia.
Jenis seni ukiran tersebut ada enam macam yaitu: a) Ukiran rendah (bas relief),
disebut ukir rendah karena gambar yang timbul kurang dari separuh belah bentuk
utuhnya, b) Ukir sedang (mezzo relief), disebut ukir sedang karena gambar yang
timbul tepat separo belah bentuk utuhnya, c) Ukir tinggi (haut relief), disebut
ukir tinggi karena gambar yang timbul lebih dari separo belah bentuk utuhnya, d) Ukir cekung atau ukir tenggelam
(encreus relief), disebut ukir cekung karena gambarnya tenggelam lebih rendah
dari pada bidang dasarnya, e) Ukir tembus atau ukir kerawang (ayour relief),
disebut demikian karena gambarnya menembus bidang dasar, sehingga berupa
lubang-lubang gambar atau krawangan. Ada kalanya yang tembus bukan gambarnya
tetapi dasarnya, d) Ukir tumpang, disebut demikian karena gambarnya tumpang
tindih diatas bidang dasar. Ukir tumpang serupa dengan relief patung karena
gambarnya utuh seperti patung.
W.J.S
Poerwadarminta memaparkan pengertian dari ukiran yaitu : Ukir adalah juru
(pandai, tukang), orang yang pekerjaannya mengukir (seni pahat). Mengukir
adalah menoreh (menggores, memehat, dan sebagainya) untuk membuat lukisan (gambaran
dan sebagainya) pada kayu, batu, logam, dan sebagainya. Ukiran merupakan
lukisan (hiasan dan sebagainya) hasil mengukir, cara mengukir (1976 : 1119).
3. Ornamen
Kata ornamen berasal dari bahasa latin ornare, yang berarti menghiasi. Menurut
Gustami ornamen adalah:
“komponen produk seni yang ditambahkan atau
sengaja dibuat untuk tujuan sebagai hiasan jadi, berdasarkan pengertian itu,
ornamen merupakan penerapan hiasan pada suatu produk. Bentuk-bentuk hiasan yang
menjadi yang menjadi ornamen tersebut fungsi utamanya adalah untuk memperindah
benda produk atau barang yang dihias. Benda produk tadi mungkin sudah indah
tetapi setelah ditambahkan ornamen pada diharapkan menjadikannya semakin indah
(dalam Aryo, 2009: 3)”
Kehadiran ornamen di tengah-tengah kehidupan masyarakat
sebagai media ekspresi yang diwujudkan dalam bentuk visual, ditujukan sebagai
pelengkap rasa estetik. Proses penciptaannya tidak terlepas dari
pengaruh-pengaruh budaya dan alam sekitar. Dalam bentuk ornamen terdapat pula
makna simbolik tertentu apa yang berlaku sah secara konvensional, di lingkungan
masyarakat pendukungnya (Soegeng Toekio M, 1997: 9).
Pengertian
dari berbagai sumber yang diambil akan digunakan untuk mengupas dan menjelaskan
dari berbagai jenis dan bentuk serta fungsi ornamen yang ada pada rumoh Cut Meutia sehingga memudahkan
penelitian.
Teori-teori
yang digunakan untuk penelitian pada
ornamen rumoh Cut Meutia adalah :
1.
Teori Bentuk
Menurut Dharsono bentuk (form) adalah totalitas dari pada karya
seni. Bentuk merupakan organisasi atau satu kesatuan, komposisi dari unsur
pendudukung karya (2004: 30). Teori bentuk digunakan untuk melihat seni sebagai
susunan dari elemen-elemen seni yang mempunyai bentuk penting dan bentuk
bermakna. Bentuk karya seni adalah totalitas dari unsur seni rupa. Bentuk
inilah yang menjadi dasar penciptaan ornamen pada rumoh Cut Meutia.
2.
Teori Fungsi
Untuk memudahkan dalam menganalisis
dan menjawab permasalahan fungsi ornamen digunakan teori fungsi yang dikemukakan
oleh Edmund Burke Feldman yang diterjemahkan Gustami. Menurut
Feldman ada
tiga fungsi seni yaitu:
(the personal function of art) seni sebagai fungsi personal, (the social function of art) seni sebagai fungsi sosial, dan (the fhysical function of
art) seni sebagai fungsi fisik (1967: 4). Fungsi selalu menjadi pertimbangan dalam
sebuah karya seni fungsional selain dari bentuk yang akan dihasilkan,
sehingga bentuk yang sederhana akan terasa penting apabila fungsinya sesuai
dengan keinginan pengamat. Teori fungsi ini
dimanfaatkan untuk mengurai aspek fungsi ornamen yang diterapkan pada rumoh Cut Meutia.
3. Teori
Estetika
Estetika berasal dari bahasa Yunani
yaitu aisthetika yang artinya hal-hal
dapat diserap dengan pancaindra atau pengamatan yang tidak terlepas dari selera
perasaan. Menurut pandangan umum estetika adalah suatu ilmu yang mempelajari
segala sesuatu berkaitan dengan keindahan dan mempelajari semua aspek dari
keindahan. Melalui ilmu estetika maka dapat diketahui kualitas dari keindahan
suatu objek melalui pengamatan panca indra.
Monroe Beardsley dalam Gie mengatakan bahwa ada tiga
unsur yang menjadi sifat-sifat membuat baik atau indah sesuatu karya estetik
yang diciptakan oleh seniman. Ketiga unsur itu adalah :
1. Kesatuan (unity) unsur ini berarti bahwa karya
estetis itu tersusun secara baikatau sempurna bentuknya. 2. Kerumitan (complexity) karya estetis itu tidak
sederhana sekali, melainkan karya dengan isi maupun unsur-unsur saling
berlawanan atau mengandung perbedaan-perbedaan yang halus. Kalau tidak terdapat
unsur kerumitan, maka sebidang tembok yang dicat putih yang menunjukkan
kesatuan bisa dianggap sebagai benda yang indah. Unsur kesatuan harus
dilengkapi dengan unsur yang kedua sehingga menjadi kesatuan dalam
keanekaragaman. 3. Kesungguhan (intensity)
suatu kaya estetis yang baik harus memiliki suautu kualitas tertentu yang
menonjol dan bukan sekedar sesuatu yang kosong (The Liang Gie, 1997: 43).
Teori
estetik ini digunakan untuk mengungkap nilai keindahan yang terkandung pada
ornamen rumoh Cut Meutia di Kecamatan
Matangkuli, Kabupaten Aceh Utara.
Komentar
Posting Komentar