bab 1 dab bab 2



BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar belakang
Rumah dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia  (1976 : 836)  adalah suatu bangunan yang dijadikan sebagai tempat tinggal manusia selama jangka waktu tertentu. Rumah berfungsi untuk  melindungi manusia dari panas matahari, hujan dan angin, serta untuk melindungi manusia dari gangguan binatang buas. Rumah tempat untuk berteduh bagi manusia, baik laki-laki maupun wanita. Masyarakat mendirikan rumah yang kokoh untuk dapat ditempati secara turun temurun oleh generasi ke generasi. Begitu juga halnya dengan rumah tradisional yang ada di setiap daerah di Indonesia, yang memiliki ciri khas tersendiri baik dari segi bentuk rumah maupun hiasan yang ada pada setiap bagian rumahnya.
Daerah Aceh memiliki rumah tradisional yang biasa disebut dengan rumoh Aceh. Rumoh Aceh merupakan tempat tinggal masyarakat Aceh pada zaman dahulu, bangunan rumah dibuat secara bergotong royong dari beberapa keluarga. Agar bisa ditempati secara turun temurun oleh  anggota keluarga untuk menjalani kehidupan sehari-hari.
Salah satu rumoh Aceh yang saat ini masih tersisa dan telah menjadi objek wisata di daerah Kabupaten Aceh Utara adalah rumoh Aceh Cut Meutia. Disebut rumoh Aceh Cut Meutia karena dulunya merupakan tempat kediaman pahlawan Nasional yang bernama Cut Meutia dan merupakan satu-satunya rumoh Aceh yang menjadi ciri khas dari kabupaten Aceh utara.
Di setiap bagian bangunan rumoh Aceh Cut Meutia terdapat berbagai ornamen ukiran. Ornamen pada rumoh Cut Meutia terdapat pada bagian dinding, pintu, ventilasi dan tolak angin. Semua motif ukiran tersebut merupakan motif ukiran tradisional kabupaten Aceh Utara, yang pada saat ini sudah jarang dijumpai dan hampir mengalami kepunahan. Hal ini disebabkan karena kurangnya perhatian dari pemerintah dan masyarakat untuk melestarikan dan mengembangkan kembali ornamen tradisional Kabupaten Aceh Utara.
Bertitik tolak dari uraian latar belakang diatas maka penulis tertarik untuk mengkaji lebih mendalam tentang ornamen yang terdapat pada rumoh Aceh Cut Meutia, yaitu bagaimana bentuk ornamen yang terdapat pada rumoh Aceh Cut Meutia, serta fungsi pembetukan ornamen itu sendiri.

B.       Rumusan masalah
Berdasarkan pemaparan latar belakang yang berkaitan dengan ornamen pada rumoh Aceh Cut Mutia kecamatan Matangkuli maka dapat disimpulkan beberapa permasalahan sebagai berikut :
1.    Bagaimanakah bentuk ornamen dan penempatannya pada rumoh Aceh Cut Meutia.
2.    Apa fungsi dari pembentukan ornamen pada rumoh Aceh Cut Meutia.
C.       Tujuan dan manfaat
1.    Tujuan penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang dikemukakan di atas maka penelitian ini bertujuan untuk:
a.    Mendiskripsikan secara rinci bentuk ornamen rumoh Aceh Cut Meutia
b.    Mendokumentasikan fungsi apa saja dari pembentukan ukiran ornamen pada rumoh Aceh Cut Meutia
c.    Untuk memenuhi syarat dalam menyelesaikan program S1(studi strata1) jurusan Seni Kriya Institut Seni Indonesia Padangpanjang
2.    Manfaat penelitian
Penelitian yang dilakukan diharapkan dapat memperoleh manfaat :
a.    Menjadi referensi bagi peneliti selanjutnya tentang ornamen daerah Aceh, khususnya ornamen pada rumoh Aceh Cut Meutia
b.   Memotivasi masyarakat untuk menjaga dan melestarikan ornamen pada rumoh Aceh Cut Meutia
c.    Sebagai upaya pelestarian dan mengembangkan kembali ornamen rumoh  Aceh Cut Meutia dan sebagai objek promosi budaya kepada dunia pariwisata.

D.      Metode penelitian
Memudahkan dalam penelitian ini diperlukan metode untuk bisa mencapai hasil dari penelitian. Metode penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Penelitian kualitatif ini mengidentifikasikan data secara langsung ke lapangan yang menghasilkan data deskriptif berkaitan dengan penelitian ornamen rumoh Aceh Cut Meutia.
1.    Objek penelitian
Objek penelitian yaitu ornamen pada rumoh Cut Meutia, yang berada di Kabupaten Aceh Utara. Penelitian dilakukan pada rumoh Cut Meutia dan seluruh ornamen yang terdapat pada setiap bagian pada rumoh Cut Meutia, pada penelitian ini tidak menggunakan populasi dan sampel, karena objek penelitian yang akan diteliti seluruh ornamen yang terdapat pada rumoh Cut Meutia.
2.    Data dan sumber data
Pemahaman mengenai sumber data merupakan bagian yang penting bagi peneliti, karena ketepatan dalam menentukan data yang diperoleh sangat menentukan hasil penulisan dari penelitian ornamen pada rumoh Cut Meutia.
Jenis sumber data dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh melalui pengamatan langsung terhadap ornamen pada rumoh Cut Meutia yang terletak di Kecamatan Matangkuli Kabupaten Aceh Utara, dan melakukan wawancara dengan informan yang memiliki pemahaman tentang motif ukiran Aceh Utara dan hal lainnya yang berhubungan dengan rumoh Cut Meutia. Sehingga data yang diperoleh tersebut dapat menjawab permasalahan yang diteliti dalam pengolahan data selanjutnya.
Sedangkan data sekunder adalah data yang diperoleh dari buku-buku, dokumen, arsip, artikel, majalah, dan laporan skripsi serta tesis yang berkaitan dengan judul penelitian baik yang diperoleh dari perpustakaan maupun dari instansi terkait dan tidak menutup kemungkinan buku ini diperoleh dari inventaris masyarakat setempat.
3.    Pengumpulan data
Pengumpulan data merupakan salah satu kegiatan pokok dalam sebuah penelitian, kegiatan pengumpulan data sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Sebagaimana dijelaskan Maryani data penelitian kualitatif bisa berupa tulisan, ujaran secara lisan, gambar, angka, pertunjukan kesenian, relief, dan berbagai bentuk data lain yang bisa ditransformasikan sebagai teks. Data tersebut bisa bersumber dari hasil survei, wawancara, dokumen, rekaman, hasil evaluasi, dan sebagainya.
a.    Studi Pustaka
Studi pustaka dilakukan untuk memperoleh informasi, bahan pendukung serta data-data yang berkaitan dengan “Ornamen Rumoh Aceh Cut Meutia”. Studi  pustaka dilakukan melalui buku-buku, skripsi, majalah, artikel, tesis, tulisan ilmiah dan tulisan lainnya yang berkaitan dengan objek penelitian. Sehingga memudahkan penulisan pada penilitian ornamen rumoh Cut Meutia.
b.    Observasi/Pengamatan
Observasi merupakan metode ilmiah, Sutrisno Hadi (1982 : 136), menjelaskan bahwa observasi biasa diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara langsung di lapangan terhadap objek yang diteliti. Pengamatan akan dilakukan dengan melihat dan mengamati sendiri ornamen pada rumoh Cut Meutia sehingga memperoleh data yang lebih akurat, real dan valid.
Observasi dalam penelitian difokuskan pada ornamen rumoh Cut Meutia di  Kecamatan Matangkuli Kabupaten Aceh Utara.
c.    Wawancara/Komunikasi
Wawancara dilakukan dengan beberapa informan atau narasumber yang memiliki banyak informasi tentang ornamen rumoh Aceh Cut Meutia di kecamatan Matangkuli Kabupaten Aceh Utara. Informan yang akan di wawancarai yaitu keluarga dari Cut Meutia, penjaga rumoh Cut Meutia, pemuka masyarakat desa serta dinas pariwisata dan kebudayaan dengan tujuan dapat memberikan informasi akurat berhubungan dengan penelitian yang akan dilakukan.
d.   Dokumentasi
Dokumentasi digunakan untuk menunjang observasi dan wawancara dengan cara mengumpulkan berbagai tulisan dan foto-foto dari lokasi penelitian. 
e.    Alat pengumpulan data
1)   Alat tulis
Digunakan untuk mencatat segala sesuatu yang berhubungan dengan penelitian secara langsung. Alat yang digunakan yaitu pensil, pena, pengapus dan buku catatan.
2)   Alat perekam suara
Digunakan untuk merekam atau menyimpan data yang dilakukan saat wawancara dengan informan mengenai Ornamen rumoh Cut Meutia, untuk mempermudah dalam mengumpulkan data dari informan. Alat yang digunakan handphone samsung.
3)   Kamera foto
Digunakan untuk mendokumentasikan objek penelitian. Ornamen rumoh Cut Meutia dalam bentuk gambar secara menyeluruh dari objek penelitian dengan tujuan untuk memperkuat dan memperjelaskan data yang diperoleh. Dari hasil penelitian di lapangan alat yang digunakan yaitu, kamera hanphone dan kamera digital.
4.    Analisis data
Analisis data kualitatif dinyatakan oleh Bogdan dan Biklen adalah upaya yang dilakukan dengan cara berkerja dengan data, proses mengorganisasikan data dan mengurutkan data ke dalam pola, untuk menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain (Moleong : 248).
Proses selanjutnya setelah data diperoleh dilapangan diolah dengan cara mengelompokkan data disesuaikan dengan permasalahan penelitian ini. Berdasarkan hal tersebut di atas maka analisis data yang dilakukan adalah analisis data kualitatif.
Tahapan ini akan dilakukan serangkaian aktivitas untuk mengurutkan data-data yang ada, berkaitan dengan ornamen rumoh Aceh Cut Meutia di Kecamatan Matangkuli, Kabupaten Aceh Utara.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

A.      Tinjauan Pustaka
Berdasarkan hasil tinjauan pustaka terdapat beberapa penelitian yang mengkaji tentang ukiran pada rumoh Aceh yang ada di daerah Aceh.  Hasil penelitian tersebut sebagai berikut: 
Maulidin Bustami, (2003) dalam penelitiannya berjudul “Ukiran Pada Rumoh Aceh Prof. H. Ali Hasjmy Di Desa Lamteumen Timur Banda Aceh. Menuliskan tentang berbagai macam bentuk ukiran yang ada pada rumoh Aceh Prof. H. Ali Hasjmy serta fungsi, penempatan motif dan teknik yang digunakan dalam pembuatan motif. Hasil penelitian ini dapat membantu peneliti dalam mengkaji ornamen pada rumoh  Cut Meutia di kecamatan Matangkuli, Kabupaten Aceh Utara.
Muhadi, (2006) dalam penelitiannya berjudul “Ornamentasi Pada Balai Desa Lingka Kuta Di Kecamatan Ganda Pura Kabupaten Aceh Jeumpa Nanggroe Aceh Darussalam”. Menuliskan tentang sejarah Balai Lingka Kuta, hiasan ukiran pada Balai Lingka Kuta mulai dari bentuk dan fungsi ornamentasi pada Balai Lingka Kuta. Dari hasil penelitian hanya dari segi fungsi yang memiliki kesamaan yang dapat menjadi referensi untuk penelitian ornamen pada rumoh Cut Meutia.
Selain dari hasil penelitian, juga di dukung dengan beberapa buku yang dapat dijadikan referensi terkait dengan ornamen secara umum di antaranya :
 Sujiman A. Musa, dkk, (1996) bukunya yang berjudul Seni Rupa Aceh di dalamnya memberikan penjelasan tentang seni rupa yang ada di Aceh. yaitu tentang seni arsitektur termasuk di dalamnya rumoh Aceh, sulaman, ukiran, keramik dan juga mengenai alat-alat kesenian. Dalam buku ini juga menjelaskan mengenai ornamen yang terdapat pada batu nisan Aceh utara. Buku ini nantinya dapat dijadikan sebagai referensi yang berkaitan dengan arsitektur rumoh Aceh untuk kelancaran penelitian ornamen pada rumoh Cut Meutia.
Barbara Leigh, (1989)  bukunya yang berjudul Tangan-Tangan Terampil Seni Kerajinan Aceh didalamnya menceritakan mengenai kerajinan di daerah Aceh. Menceritakan kegiatan masyarakat Aceh sehari-hari, dan juga menjelaskan mengenai arsitektur rumoh Aceh, ornamen dan penerapannya serta proses pembuatan rumoh Aceh yang dapat di jadikan sebagai referensi untuk kelancaran penelitian ornamen pada rumoh Cut Meutia.
Aryo Sunaryo, (2009) bukunya yang berjudul Seni Ornamen Nusantara Kajian Khusus Tentang Ornamen Indonesia didalamnya mengurai tentang keanekaragaman ornamen di Indonesia. Seperti yang terdapat pada benda produk tenun, sulaman, anyaman, ukiran, arsitektur dan sebagainya. Buku ini dapat dijadikan sebagai referensi mengenai ornamen sehingga memberikan  kelancaran pada penelitian ornamen rumoh Cut Meutia.
Soegeng Toekio. M., (1987)  bukunya yang berjudul Mengenal Ragam Hias Indonesia didalamnya memberikan penjelasan tentang ornamen Indonesia. Menguraikan tentang titik, garis, tekstur, bidang, serta ornamen dalam bentuk geometris, bentuk tumbuh-tumbuhan, bentuk penggambaran makhluk hidup seperti hewan dan manusia, bentuk dekoratif dan gabungan beberapa jenis tersebut di atas. Buku tersebut dapat digunakan sebagai acuan untuk membahas unsur motif dan struktur bentuk ornamen pada rumoh Aceh Cut Meutia.
Gustami. SP, (2008)  bukunya yang berjudul Nukilan Seni Ornamen Indonesia didalamnya memberi penjelasan tentang ornamen masa prasejarah dan ornamen masa sejarah di Indonesia, pengertian dan ruang lingkup ornamen, pengembangan seni ornamen dalam peta seni kriya Indonesia. Buku ini juga menjelaskan tentang pola dan motif, bentuk dan komposisi, corak, gaya, dan karakter seni ornamen, serta faktor pendorong timbulnya ornamen.  Buku ini nantinya dapat digunakan sebagai acuan untuk membahas unsur motif dan struktur bentuk ornamen pada penelitian ornamen rumoh Cut Meutia.
Guntur, (2003)  bukunya yang berjudul Ornamen Sebuah Pengantar didalamnya menjelaskan tentang pengertian ornamen dan ruang lingkupnya, jenis dan sifat ornamen, fungsi sakral ornamen, motif geometris, motif tumbuhan, motif binatang, motif artifisial, ragam hias, gaya dalam ornamen, sumber  ide dan elemen pembentuk ornamen serta gramatika ornamen, struktur komposisi ornamen dan kontruksi ornamen. Buku ini dapat digunakan sebagai acuan untuk membahas unsur motif dan struktur bentuk ornamen pada rumoh Cut Meutia.
Beberapa uraian tinjauan pustaka yang telah di paparkan tersebut di atas belum ada penelitian yang mengkaji tentang ornamen rumoh Cut Meutia sebagaimana yang ada dalam penelitian ini meskipun meskipun demikian semua buku-buku tersebut dapat digunakan sebagai panduan dan acuan dalam menyusun skripsi ini nantinya.

B.       Landasan Teori
Berdasarkan  permasalahan yang diambil maka dibutuhkan beberapa pendekatan sebagai landasan berfikir untuk menjawab semua permasalahan yang sudah ditentukan. Sebelum masuk pada teori yang akan digunakan   sebagai pisau analisa dan kerangka berfikir dalam penelitian ini. Ada beberapa konsep yang perlu penjelasan lebih lanjut di antaranya:
1.    Rumah Tradisional
Rumah tradisional dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia adalah rumah yang dibangun untuk digunakan secara bersama sejak beberapa generasi (1983: 2956). Memiliki kaitan erat dengan penerapan adat istiadat, kepercayaan yang dianut. Ataupun penerapan simbolik dalam perlakuan dan pemberian bentuk rumah tersebut.
Rumoh Aceh merupakan salah satu rumah tradisional yang ada di daerah Aceh. Kusnadi menjelaskan bahwa Setiap rumah tradisional di Aceh mempunyai bentuk yang sama. Rumah tersebut berdiri di atas ketinggian sekitar 2,50 meter sampai 3 meter. Denah bangunan biasanya berbentuk bujur sangkar memanjang dari arah barat ke timur. Pintu tangga rumah pada umumnya menghadap ke utara atau ke selatan. Atap bangunan terbuat dari rumbia yang dianyam. Tiang terbuat dari batang kayu yang memiliki kualitas kuat sehingga dapat dipakai oleh beberapa generasi. Lantai terbuat dari papan dan untuk merangkai susunan pada rumah Aceh tidak menggunakan paku sama sekali tapi mempergunakan pengikat dari rotan atau paku dari kayu (1979: 105). Penjelasan Rumoh Aceh sebagaimana yang dijelaskan Kusnadi tersebut juga memiliki kesamaan dengan bangunan Rumoh Aceh Cut Meutia.
2.    Ukiran
Suwaji Bustami mendefenisikan ukiran adalah: Suatu hasil seni yang dikerjakan dengan pahat. Ukiran dapat berarti pula lukisan atau gambaran.  Berdasarkan uraian tersebut karya seni ukir adalah karya seni yang indah, yang menyenangkan. Menurut kenyataan benda-benda yang berukir pada umumnya adalah benda terap seperti benda-benda kerajinan, peralatan dalam kehidupan dan   bangunan rumah adat serta rumah para raja-raja (1982: 01). Begitu pula halnya dengan rumoh Cut Meutia yang memiliki ukiran ornamen pada setiap bagiannya sehingga memberikan kesan indah dan bernilai seni.
Selanjutnya Suwaji Bustami (1982: 02) memberikan pengelompokkan tentang jenis seni ukir yang dihasilkan oleh para seniman/pengrajint. Jenis-jenis ukiran tersebut nantinya akan digunakan untuk menentukan jenis ukiran yang digunakan pada ukiran ornamen rumoh Aceh Cut Meutia. Jenis seni ukiran tersebut ada enam macam yaitu: a) Ukiran rendah (bas relief), disebut ukir rendah karena gambar yang timbul kurang dari separuh belah bentuk utuhnya, b) Ukir sedang (mezzo relief), disebut ukir sedang karena gambar yang timbul tepat separo belah bentuk utuhnya, c) Ukir tinggi (haut relief), disebut ukir tinggi karena gambar yang timbul lebih dari separo belah bentuk  utuhnya, d) Ukir cekung atau ukir tenggelam (encreus relief), disebut ukir cekung karena gambarnya tenggelam lebih rendah dari pada bidang dasarnya, e) Ukir tembus atau ukir kerawang (ayour relief), disebut demikian karena gambarnya menembus bidang dasar, sehingga berupa lubang-lubang gambar atau krawangan. Ada kalanya yang tembus bukan gambarnya tetapi dasarnya, d) Ukir tumpang, disebut demikian karena gambarnya tumpang tindih diatas bidang dasar. Ukir tumpang serupa dengan relief patung karena gambarnya utuh seperti patung.
W.J.S Poerwadarminta memaparkan pengertian dari ukiran yaitu : Ukir adalah juru (pandai, tukang), orang yang pekerjaannya mengukir (seni pahat). Mengukir adalah menoreh (menggores, memehat, dan sebagainya) untuk membuat lukisan (gambaran dan sebagainya) pada kayu, batu, logam, dan sebagainya. Ukiran merupakan lukisan (hiasan dan sebagainya) hasil mengukir, cara mengukir (1976 : 1119).
3.    Ornamen
Kata ornamen berasal dari bahasa latin ornare, yang berarti menghiasi. Menurut Gustami ornamen adalah:
“komponen produk seni yang ditambahkan atau sengaja dibuat untuk tujuan sebagai hiasan jadi, berdasarkan pengertian itu, ornamen merupakan penerapan hiasan pada suatu produk. Bentuk-bentuk hiasan yang menjadi yang menjadi ornamen tersebut fungsi utamanya adalah untuk memperindah benda produk atau barang yang dihias. Benda produk tadi mungkin sudah indah tetapi setelah ditambahkan ornamen pada diharapkan menjadikannya semakin indah (dalam Aryo, 2009: 3)”

Kehadiran ornamen di tengah-tengah kehidupan masyarakat sebagai media ekspresi yang diwujudkan dalam bentuk visual, ditujukan sebagai pelengkap rasa estetik. Proses penciptaannya tidak terlepas dari pengaruh-pengaruh budaya dan alam sekitar. Dalam bentuk ornamen terdapat pula makna simbolik tertentu apa yang berlaku sah secara konvensional, di lingkungan masyarakat pendukungnya (Soegeng Toekio M, 1997: 9).
Pengertian dari berbagai sumber yang diambil akan digunakan untuk mengupas dan menjelaskan dari berbagai jenis dan bentuk serta fungsi ornamen yang ada pada rumoh Cut Meutia sehingga memudahkan penelitian.
Teori-teori yang digunakan untuk penelitian  pada ornamen rumoh Cut Meutia adalah :
1.    Teori Bentuk
Menurut Dharsono bentuk (form) adalah totalitas dari pada karya seni. Bentuk merupakan organisasi atau satu kesatuan, komposisi dari unsur pendudukung karya (2004: 30). Teori bentuk digunakan untuk melihat seni sebagai susunan dari elemen-elemen seni yang mempunyai bentuk penting dan bentuk bermakna. Bentuk karya seni adalah totalitas dari unsur seni rupa. Bentuk inilah yang menjadi dasar penciptaan ornamen pada rumoh Cut Meutia.
2.      Teori Fungsi

Untuk memudahkan dalam menganalisis dan menjawab permasalahan fungsi ornamen digunakan teori fungsi yang dikemukakan oleh Edmund Burke Feldman yang diterjemahkan Gustami. Menurut Feldman ada tiga fungsi seni yaitu: (the personal function of art) seni sebagai fungsi personal, (the social function of art) seni sebagai fungsi sosial, dan (the fhysical function of art) seni sebagai fungsi fisik (1967: 4).  Fungsi selalu menjadi pertimbangan dalam sebuah karya seni fungsional selain dari bentuk yang akan dihasilkan, sehingga bentuk yang sederhana akan terasa penting apabila fungsinya sesuai dengan keinginan pengamat. Teori fungsi ini dimanfaatkan untuk mengurai aspek fungsi ornamen yang diterapkan pada rumoh Cut Meutia.
3.      Teori Estetika
Estetika berasal dari bahasa Yunani yaitu aisthetika yang artinya hal-hal dapat diserap dengan pancaindra atau pengamatan yang tidak terlepas dari selera perasaan. Menurut pandangan umum estetika adalah suatu ilmu yang mempelajari segala sesuatu berkaitan dengan keindahan dan mempelajari semua aspek dari keindahan. Melalui ilmu estetika maka dapat diketahui kualitas dari keindahan suatu objek melalui pengamatan panca indra.
Monroe Beardsley dalam Gie mengatakan bahwa ada tiga unsur yang menjadi sifat-sifat membuat baik atau indah sesuatu karya estetik yang diciptakan oleh seniman. Ketiga unsur itu adalah :
1. Kesatuan (unity) unsur ini berarti bahwa karya estetis itu tersusun secara baikatau sempurna bentuknya. 2. Kerumitan (complexity) karya estetis itu tidak sederhana sekali, melainkan karya dengan isi maupun unsur-unsur saling berlawanan atau mengandung perbedaan-perbedaan yang halus. Kalau tidak terdapat unsur kerumitan, maka sebidang tembok yang dicat putih yang menunjukkan kesatuan bisa dianggap sebagai benda yang indah. Unsur kesatuan harus dilengkapi dengan unsur yang kedua sehingga menjadi kesatuan dalam keanekaragaman. 3. Kesungguhan (intensity) suatu kaya estetis yang baik harus memiliki suautu kualitas tertentu yang menonjol dan bukan sekedar sesuatu yang kosong (The Liang Gie, 1997: 43).
Teori estetik ini digunakan untuk mengungkap nilai keindahan yang terkandung pada ornamen rumoh Cut Meutia di Kecamatan Matangkuli, Kabupaten Aceh Utara.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

bab 3 dan bab 4

bab 1