bab 2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA Dan LANDASAN TEORI

A.  Tinjauan Pustaka
Terdapat penelitian yang mengkaji tentang ukiran pada rumoh Aceh yang ada di daerah Aceh.  Hasil penelitian tersebut sebagai berikut: 
Maulidin Bustami, (2003) dalam penelitiannya berjudul “Ukiran Pada Rumoh Aceh Prof. H. Ali Hasjmy Di Desa Lamteumen Timur Banda Aceh”. Menuliskan tentang berbagai macam bentuk ukiran pada rumoh Aceh Prof. H. Ali Hasjmy serta fungsi, penempatan motif dan teknik yang digunakan dalam pembuatan motif pada rumoh Aceh Prof. H. Ali Hasjmy. Hasil penelitian ini dapat membantu peneliti dalam mengkaji ornamen pada rumoh Aceh Cut Meutia di kecamtan Matangkuli, Kabupaten Aceh Utara.
Muhadi, (2006) dalam penelitiannya berjudul “Ornamentasi Pada Balai Desa Lingka Kuta Di Kecamatan Ganda Pura Kabupaten Aceh Jeumpa Nanggroe Aceh Darussalam”. Menuliskan tentang sejarah Balai Lingka Kuta, hiasan ukiran pada Balai Lingka Kuta mulai dari bentuk dan fungsi ornamentasi pada Balai Lingka Kuta. Dari hasil penelitian hanya dari segi fungsi yang memiliki kesamaan yang dapat menjadi referensi untuk penelitian ornamen pada rumoh Aceh Cut Meutia.
Selain dari hasil penelitian, juga di dukung dengan beberapa buku yang dapat dijadikan referensi terkait dengan ornamen secara umum di antaranya.
 Sujiman A. Musa, dkk, (1996) bukunya yang berjudul Seni Rupa Aceh di dalamnya memberikan penjelasan tentang seni rupa yang ada di Aceh. Yaitu tentang seni arsitektur termasuk di dalamnya rumoh Aceh, sulaman, ukiran, keramik dan juga mengenai alat-alat kesenian. Dalam buku ini juga menjelaskan mengenai ornamen yang terdapat pada batu nisan Aceh utara nantinya dapat diambil sebagai referensi untuk kelancaran penelitian ornamen pada rumoh Aceh Cut Meutia.
Barbara Leigh, (1989)  bukunya yang berjudul Tangan-Tangan Terampil Seni Kerajinan Aceh di dalamnya menceritakan mengenai kerajinan di daerah Aceh. Menceritakan kegiatan masyarakat Aceh sehari-hari, dan juga menjelaskan mengenai arsitektur rumoh Aceh, ornamen dan penerapannya serta proses pembuatan rumoh Aceh yang dapat di ambil sebagai referensi untuk kelancaran penelitian ornamen pada rumoh Aceh Cut Meutia.
Aryo Sunaryo, (2009) bukunya yang berjudul Seni Ornamen Nusantara Kajian Khusus Tentang Ornamen Indonesia di dalamnya mengurai tentang keanekaragaman ornamen di Indonesia. Seperti yang terdapat pada benda produk tenun, sulaman, anyaman, ukiran, arsitektur dan sebagainya yang dapat diambil sebagai referensi untuk kelancaran penelitian ornamen rumoh Aceh Cut Meutia.
Soegeng Toekio. M., (1987)  bukunya yang berjudul Mengenal Ragam Hias Indonesia di dalamnya memberikan penjelasan tentang ornamen Indonesia. Menguraikan tentang titik, garis, tekstur, bidang, serta ornamen dalam bentuk geometris, bentuk tumbuh-tumbuhan, bentuk penggambaran makluk hidup seperti hewan dan manusia, bentuk dekoratif dan gabungan beberapa jenis tersebut di atas. Buku tersebut dapat digunakan sebagai acuan untuk membahas unsur motif dan struktur bentuk ornamen pada rumoh Aceh Cut Meutia.
Gustami. SP, (2008)  bukunya yang berjudul Nukilan Seni Ornamen Indonesia di dalamnya memberi penjelasan tentang ornamen masa prasejarah dan ornamen masa sejarah di Indonesia, pengertian dan ruang lingkup ornamen, pengembangan seni ornamen dalam peta seni kriya Indonesia. Buku ini juga menjelaskan tentang pola dan motif, bentuk dan komposisi, corak, gaya, dan karakter seni ornamen, serta faktor pendorong timbulnya ornamen.  Dapat digunakan sebagai acuan untuk membahas unsur motif dan struktur bentuk ornamen yang dapat digunakan sebagai acuan dalam penelitian ornamen pada rumoh Aceh Cut Meutia.
Guntur, (2003)  bukunya yang berjudul Ornamen Sebuah Pengantar di dalamnya menjelaskan tentang pengertian ornamen dan ruang lingkupnya, jenis dan sifat ornamen, fungsi sakral ornamen, motif geometris, motif tumbuhan, motif binatang, motif artifisial, ragam hias, gaya dalam ornamen, sumber  ide dan elemen pembentuk ornamen serta gramatika ornamen, struktur komposisi ornamen dan kontruksi ornamen. Buku ini dapat digunakan sebagai acuan untuk membahas unsur motif dan struktur bentuk ornamen pada rumoh Aceh Cut Meutia.
Beberapa uraian tinjauan pustaka yang telah di paparkan dapat digunakan sebagai panduan dan acuan dalam menyusun skripsi ini nantinya.

B.   Landasan Teori
Berdasarkan  permasalahan yang diambil maka dibutuhkan beberapa pendekatan sebagai landasan berfikir untuk menjawab semua permasalahan yang sudah ditentukan. Adapun teori-teori yang digunakan adalah :
1.    Teori Bentuk
 Menurut Dharsono bentuk (form) adalah totalitas daripada karya seni. Bentuk itu merupakan organisasi atau satu kesatuan, komposisi dari unsur pendudukung karya (2004 : 30). Teori bentuk melihat seni dari bentuknya. Bentuk melihat seni sebagai susunan dari elemen-elemen seni yang mempunyai bentuk penting dan bentuk bermakna. Bentuk karya seni adalah unsur dari seni rupa dan kriya. Bentuk inilah yang menjadi dasar penciptaan ornamen pada rumoh Aceh Cut Meutia.
2.      Teori Fungsi

Untuk memudahkan dalam menganalisis dan menjawab permasalahan fungsi ornamen digunakan teori fungsi yang dikemukakan Edmund Burke Feldman terjemahan Prof. Gustami, dibagi atas tiga fungsi seni yaitu: (the personal function of art) seni sebagai fungsi personal, (the social function of art) seni sebagai fungsi sosial, dan (the fhysical function of art) seni sebagai fungsi fisik. 1) fungsi personal yaitu kebutuhan-kebutuhan kita tentang ekspresi pribadi, 2) fungsi sosial yaitu kebutuhan-kebutuhan sosial untuk keperluan hiasan, dan 3) fungsi fisik kebutuhan-kebutuhan fisik kita mengenai barang-barang dan bangunan-bangunan yang bermanfaat (1967 : 4).   Fungsi selalu menjadi pertimbangan dalam sebuah karya seni fungsional selain dari bentuk yang akan dihasilkan, sehingga bentuk yang sederhana akan terasa penting apabila fungsinya sesuai dengan keinginan pengamat. Teori fungsi ini dimanfaatkan untuk mengurai aspek fungsi ornamen yang diterapkan pada rumoh Aceh Cut Meutia.
3.      Teori Estetik
The Liang Gie dalam bukunya Filsafat keindahan mendefinisikan keindahan dalam arti estetis murni menyangkut pengalaman estetis dari seseorang dalam hubungannnya dengan segala sesuatu yang dicerapnya. Pencerapan itu bisa secara visual yaitu keindahan pada karya seni rupa atau audial yaitu keindahan karya seni pertunjukan (1997 : 107).
Teori estetik ini digunakan untuk mengungkap nilai keindahan yang terkandung pada ornamen rumoh Aceh Cut Meutia di Kecamatan Matangkuli, Kabupaten Aceh Utara. “yang jelas teori tersebut mememuhi dua buah kriteria yaitu cocok dengan situasi empiris, dan melakukan fungsi teori, yaitu meramalkan, menerangkan dan menafsirkan”(Lexi. J. Moleong, 2010 : 14 ).

C.     Konsep
Selain landasan teori penelitian juga membutuhkan beberapa konsep. dalam hal ini merupakan penjelasan yang menjadi panduan dalam pembahasan untuk melengkapi hasil penelitian yang akan dijadikan sebagai pisau analisa dan kerangka berfikir dalam penelitian.

1.      Sejarah
Sejarah dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia Moderen adalah silsilah asal usul keturunan, kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau (1976 : 887). Sudiyono dalam ensiklopedi indonesia mengatakan bahwa sejarah istilah yang berasal dari bahasa arab syajarah yang artinya pohon. Dalam hal ini pengertian sejarah sama dengan di indonesia apa yang disebut dengan silsilah yakni dartar asal usul atau keturunan. Dalam ilmu sejarah dibedakan antara sejarah sebagai kisah dan sejarah sebagai kisah dan sejarah sebagai peristiwa sendiri. Apa yang sering disebut-sebut sekarang ini adalah sejarah sebagai kisah, sebab sejarah sebagai peristiwa masa lampau sudah tidak ada lagi dan karena itu tidak mungkin kita amati dan kita saksikan (1990).
 Sejarah dalam penelitian ini akan mengupas awal  mula berdirinya rumoh Aceh Cut Meutia dan menceritakan perjalanan perjuangan Cut Meutia melawan penjajahan belanda.
2.      Arsitektur
Arsitektur dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia Moderen berarti gaya atau bentuk bangunan (58 : 1976). Eddy Supriyatna Munizar dalam bukunya Upaya Membangun Citra Arsitektur, Interior Dan Senirupa Indonesia. menambahkan arsitektur ditentukan pola hidup manusia dan budaya suatu bangsa. Oleh sebab itu arsitektur Indonesia yang paling dekat perwujudannya adalah arsitektur yang menuju kesejahteraan dunia dan akhirat. Pada prinsipnya arsitektur Indonesia adalah arsitektur yang mengacu pada lingkungan hidup, lingkungna religius, lingkungan familiar, dan lingkungan sosial budaya (1996 : 4)
Abdul Hadjad Dkk, dalam bukunya Arsitektur Tradisional Propinsi Daerah Istimewa Aceh, mengatakan bahwa arsitektur tradisional adalah suatu unsur kebudayaan yang tumbuh dan berkembang bersamaan dengan pertumbuhan suatu suku bangsa ataupun bangsa. Oleh karena itu arsitektur tradisional merupakan salah satu identitas dari suatu pendukung kebudayaan. Arsitektur tradisional terkandung secara terpadu wujud ideal sosial dan wujud material suatu kebudayaan. Karena wujud-wujud kebudayaan itu dihayati dan dinikmati, maka lahirlah suatu rasa bangga dan rasa cinta terhadap arsitektur tradisional itu (1982 : 5)
Arsitektur digunakan untuk menjelaskan bentuk bangunan dan komponen bahan yang digunakan pada rumoh Aceh Cut Meutia secara keseluruhan.
3.      Rumah Tradisional
Rumah dalam Ensiklopedia Indonesia adalah rumah yang dibangun untuk digunakan secara bersama sejak beberapa generasi. Memiliki kaitan erat dengan penerapan adat istiadat, kepercayaan yang dianut. Ataupun penerapan simbolik dalam perlakuan dan pemberian bentuk rumah tersebut (1983 : 2956).
Kusnadi menjelaskan tentang rumah tradisional Aceh adalah sebagai berikut :
Setiap rumah tradisional di Aceh mempunyai bentuk yang sama. Rumah tersebut berdiri diatas dengan ketinggian sekitar 2,50 meter sampai 3 meter. Denah bangunan biasanya berbentuk bujur sangkar memanjang  dengan arah barat ke timur. Pintu tangga rumah pada umumnya menghadap ke utara atau ke selatan. Atap bangunan terbuat dari rumbia yang di anyam. Tiang terbuat dari batang  kayu yang memiliki kualitas kuat hingga kuat berpuluh-puluh tahun dapat dipakai oleh beberapa generasi. Lantai terbuat dari papan dan untuk merangkai susunan pada rumah Aceh tidak di pergunakan paku sama sekali tapi dipergunakan pengikat atau paku dari kayu atau rotan untuk tali pengikat (1979 : 105).

4.      Ukiran
Suwaji Bustami mendefenisikan ukiran adalah:
Kata ukiran berati pahatan, yaitu suatu hasil seni yang dikerjakan dengan pahat. Ukiran dapat berarti pula lukisan atau gambaran. Jika orang berkata “ukirkan dalam hatimu”, maksudnya lukiskan dalam hatimu. Berdasarkan uraian tersebut karya seni ukir adalah karya seni yang indah, yang menyenangkan. Menurut kenyataan benda-benda yang berukir pada umumnya adalah benda terap. Diterapkan pada benda-benda kerajinan peralatan dalam kehidupan dan  diterapkan pada bangunan rumah adat dan rumah para raja-raja  (1982 : 01).
Selanjutnya Suwaji Bustami memberikan pengelompokkan tentang jenis seni ukir yang dihasilkan oleh para seniman/pengrajin ada enam macam yaitu :
1.      Ukiran rendah (bas relief), disebut ukir rendah karena gambar yang timbul kurang dari separuh belah bentuk utuhnya.
2.      Ukir sedang (mezzo relief), disebut ukir sedang karena gambar yang timbul tepat separo belah bentuk utuhnya.
3.      Ukir tinggi (haut relief), disebut ukir tinggi karena gambar yang timbul lebih dari separo belah bentuk  utuhnya.
4.      Ukir cekung atau ukir tenggelam (encreus relief), disebut ukir cekung karena gambarnya tenggelam lebih rendah dari pada bidang dasarnya.
5.      Ukir tembus atau ukir kerawang (ayour relief), disebut demikian karena gambarnya menembus bidang dasar, sehingga berupa lubang-lubang gambar atau krawangan. Ada kalanya yang tembus bukan gambarnya tetapi dasarnya.
6.      Ukir tumpang, disebut demikian karena gambarnya tumpang tindih diatas bidang dasar. Ukir tumpang serupa dengan relief patung karena gambarnya utuh seperti patung.

W.J.S Poerwadarminta memaparkan pengertian dari ukiran yaitu : Ukir adalah juru (pandai, tukang), orang yang pekerjaannya mengukir (seni pahat). Mengukir adalah menoreh (menggores, memehat, dan sebagainya) untuk membuat lukisan (gambaran dan sebagainya) pada kayu, batu, logam, dan sebagainya. Ukiran merupakan lukisan (hiasan dan sebagainya) hasil mengukir, cara mengukir (1976 : 1119).
5.      Ornamen
Pengertian ornamen yang berkaitan dengan arsitektur Dalam Ensiklopedi Indonesia. Istilah ini berasal keinginan manusia untuk menghias benda-benda disekelilingnya. Kekayaan menjadi sumber ornamen, di masa lampau berkembang di istana raja-raja dan para bangsawan, baik di barat maupun di timur. Untuk menghias bentuk-bentuk dasar dari hasil kerajinan tangan, (perabot pakaian dan sebagainya). Arsitektur bagaimanapun gaya dan corak ornamen harus diserasikan kepada bidang yang dihias itu. Ornamen pada hakikatnya adalah gambaran dari irama dalam garis atau bidang. Ornamen “dalam arsitektur, merupakan corak yang ditambahkan pada bagian bangunan dan berfungsi hanya sebagai penghias”. “Ornamen berasal dari bahasa Yunani yaitu dari bahasa Ornare yang artinya hiasan atau perhiasan, ragam hias, atau ornamen itu sendiri dari berbagai jenis motif. Motif-motif itulah yang digunakan sebagai penghias sesuatu yang ingin kita hiasi. Oleh karena itu motif adalah dasar untuk menghias suatu ornamen. Semula ornamen-ornamen tersebut berupa garis seperti garis lurus, garis patah, garis miring, garis sejajar, garis lengkung, lingkaran dan sebagainya yang kemudian berkembang menjadi berbagai macam bentuk (2449 : 1983).
Ornamen adalah komponen produk seni yang ditambahkan atau sengaja dibuat untuk tujuan sebagai hiasan. Di samping tugasnya menghiasi yang implisit menyangkut segi-segi keindahan, misalnya untuk menambah indahnya suatu barang sehingga lebih bagus dan menarik, akibatnya mempengaruhi pula dalam segi penghargaannya baik dari segi spiritual maupun segi material/finansialnya. Selain itu dalam seni ornamen sering ditemukan pula nilai-nilai simbolik atau maksud-maksud tertentu yang ada hubungannya dengan pandangan hidup (filsafat hidup) dari manusia atau masyarakat penciptanya, sehingga suatu benda yang dikenai seni ornamen itu akan mempunyai arti yang lebih bermakna, disertai harapan-harapan tertentu pula (SP. Gustami, 2008 : 4).
Kehadiran ornamen di tengah-tengah kehidupan masyarakat sebagai media ekspresi yang diwujudkan dalam bentuk visual, ditujukan sebagai pelengkap rasa estetik. Proses penciptaannya tidak terlepas dari pengaruh-pengaruh budaya dan alam sekitar. Dalam bentuk ornamen terdapat pula makna simbolik tertentu apa yang berlaku sah secara konvensional, di lingkungan masyarakat pendukungnya (Soegeng Toekio M,1997:9).
Guntur dalam bukunya “Ornamen Sebuah Pengantar” memberikan penjelasan bahwa menurut sifatnya ornamen dapat dikelompokkan kedalam ornamen naturalistik, dan ornamen stilir. Sedangkan berdasarkan elemen pembentuknya, ornamen dapat dipilah ke dalam ornamen berjenis geometris (non alam) dan ornamen berbentuk tumbuhan, binatang, manusia dan artifisial (alam) (2003 : 38).
Pengertian dari berbagai sumber yang diambil akan digunakan untuk mengupas dan menjelaskan dari berbagai jenis dan bentuk serta fungsi ornamen yang ada pada rumoh Aceh Cut Meutia dan memudahkan penelitian.


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

bab 3 dan bab 4

bab 1 dab bab 2

bab 1